Kali ini saya ingin berbagi
sebuah long-series yang
mengeksplorasi sisi gelap dari
sebuah kesetiaan dan fantasi
terlarang yang mungkin
menjadi mimpi buruk (atau
mimpi indah) bagi sebagian
dari kita: Cuckoldry.
Ini bukan sekadar cerita
perselingkuhan biasa. Ini
adalah tentang istriku Ifah
seorang istri yang dikenal sholehah, selalu berhijab, dan menjadi simbol
kesucian di lingkungan perumahan kami. Namun, di balik kain yang menutupi
tubuhnya, ada gairah yang sedang menunggu untuk diledakkan oleh sosok
pria yang salah—atau mungkin tepat.
Sosok itu adalah Fauzan tetangga yang maskulin, dominan, dan memiliki aura
"predator" yang tidak bisa ditolak.
Dan di tengah mereka, ada saya, Putra Suami yang mencintai istrinya, namun
memiliki rahasia paling kotor yang pernah ada: Saya justru terangsang melihat
istri saya sendiri "dijajah" dan "dikotori" oleh kejantanan pria lain. Saya adalah
sutradara di balik kehinaan istri saya sendiri.
Episode 1 – Benih di Balik Pagar
Di mata warga perumahan, Ifah adalah simbol wanita idaman. Parasnya ayu
dengan kulit putih bersih yang selalu terjaga di balik hijab lebar dan gamis
longgarnya. Tutur katanya santun, pandangannya selalu menunduk jika
berpapasan dengan pria, menjadikannya sosok yang sangat dihormati
sekaligus mengundang rasa penasaran. Namun, bagi Putra, suaminya, Ifah
adalah kanvas putih yang sedang ia persiapkan untuk dikotori. Putra memiliki
penyimpangan fantasi yang dalam—Cuckold. Ia memuja istrinya, namun
gairah puncaknya justru muncul saat membayangkan kesucian Ifah direnggut
dan dinistakan oleh pria yang lebih dominan.
Pria itu adalah Fauzan. Tetangga sebelah rumah yang merupakan antitesis dari
Putra. Fauzan bertubuh tegap, dengan otot lengan yang keras dan urat-urat menonjol yang selalu ia pamerkan saat mencuci mobil SUV hitamnya tanpa
baju.
Aroma tubuhnya adalah perpaduan antara keringat jantan, parfum
woody, dan asap rokok—sebuah kombinasi yang sangat maskulin dan
mengintimidasi.
Ketegangan dimulai dari interaksi singkat di sore hari. Saat Ifah sedang
menyiram tanaman, Fauzan sering berdiri di pagar pembatas, memandangi
lekuk tubuh Ifah yang samar di balik kain gamisnya yang tertiup angin.
"Sore, Bu Ifah. Sejuk ya sore ini, tapi sepertinya bunga-bunganya kalah segar
sama yang menyiram," sapa Fauzan dengan suara berat yang serak, tipe suara
yang membuat bulu kuduk Ifah meremang.
Ifah hanya menunduk, merapikan hijabnya yang sedikit tersingkap. "Eh, Mas
Fauzan. Bisa saja bercandanya."
Percakapan itu perlahan berpindah ke WhatsApp. Awalnya formal, namun
Fauzan mulai memasukkan bumbu-bumbu rayuan yang "berkelas" namun
tajam.
Putra tahu segalanya. Ia bahkan sering duduk di samping Ifah, memperhatikan
layar ponsel istrinya saat notifikasi dari Fauzan masuk. Bukannya marah, Putra
justru memandu Ifah untuk memberikan umpan yang lebih berani.
WhatsApp Chat:
Fauzan: "Tadi saya lihat Bu Ifah pakai gamis warna marun ya? Bagus sekali, pas
dengan kulitnya yang putih bersih. Saya jadi terpikir, apa suaminya gak
cemburu kalau istrinya secantik itu keluar rumah?"
Ifah: "Mas Fauzan ini ada-ada saja.
Mas Putra orangnya sangat percaya sama
saya kok."
Fauzan: "Percaya itu bagus, Bu. Tapi pria seperti saya kalau lihat yang indah
sedikit, pikirannya suka melayang ke mana-mana. Maaf ya kalau saya terlalu
jujur, habisnya Bu Ifah ini 'adem' banget dilihatnya. Jadi penasaran aslinya
kalau lagi lepas hijab..."
Putra yang membaca chat itu merasakan kejantanannya mengeras. Ia berbisik
di telinga Ifah, "Balas, Sayang. Bilang kalau kamu juga sering kepikiran dia."
Ifah (Mengetik atas instruksi Putra): "Sebenarnya... aku juga sering merasa
diperhatikan Mas Fauzan kalau lagi di halaman. Rasanya agak mendebarkan,
Mas. Apalagi kalau Mas lagi nggak pakai baju begitu..."
Fauzan: "Wah, ternyata Bu Ifah merhatiin saya juga ya? Saya jadi makin penasaran gimana reaksi wanita seanggun kamu kalau saya ajak ngobrol lebih
privat."
Fauzan, yang merasa mendapatkan lampu hijau, mulai mengatur langkah lebih
jauh. Ia mengajak Ifah untuk "olahraga" pagi di hari Minggu, saat ia tahu
lingkungan perumahan masih sepi dan Putra biasanya sedang sibuk dengan
hobi fotografinya. Fauzan tidak sadar bahwa Putra adalah sutradara di balik
semua ini.
Fauzan: "Minggu pagi besok saya mau jogging ke taman kota, Bu Ifah mau
ikut? Biar badan makin segar. Saya jemput pakai mobil saya jam 6 pagi,
gimana?"
Ifah: "Olahraga ya, Mas? Apa tidak apa-apa?"
Fauzan: "Cuma olahraga, Bu. Biar kita makin akrab sebagai tetangga. Tapi
kalau Bu Ifah mau 'memadu kasih' dengan suasana pagi yang sepi... mobil saya
cukup privat kok untuk kita sekadar ngobrol lebih dalam. Saya mau liat lebih
dekat wajah cantik kamu tanpa hijab."
Putra tersenyum puas. Ia membelai kepala istrinya yang berhijab itu dengan
penuh rencana kotor. "Terima ajakannya, Sayang. Pakai baju olahraga yang
ketat di balik jaketmu. Biar tetangga kita itu tahu betapa montoknya istri Papa."
Ifah: "Baik Mas Fauzan, aku ikut. Jemput di depan rumah ya. Aku mau cari
suasana baru yang lebih... menantang."
Episode 2 – Kabin SUV yang Beruap
Minggu pagi yang sunyi. Pukul enam tepat, deru mesin SUV hitam Fauzan
berhenti di depan pagar. Putra berdiri di balik tirai kamar lantai dua,
jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan di bawah. Ifah keluar
dengan jaket olahraga longgar dan hijab instan yang menutup rapat. Namun,
Putra tahu rahasia di baliknya: Ifah tidak memakai bra dan hanya mengenakan
legging ketat yang mencetak jelas belahan kemaluannya—sebuah instruksi
yang Putra berikan semalam sambil meremas tubuh istrinya.
Ifah melangkah masuk ke mobil. Begitu pintu tertutup, aroma maskulin Fauzan
—campuran parfum kayu dan sedikit aroma tembakau—langsung mengepung
indra penciumannya. Fauzan mengenakan kaos singlet yang memperlihatkan
bahu kokoh dan urat-urat lengannya yang berdenyut.
"Pagi, Ifah. Segar sekali kelihatannya... meski terbungkus rapat begini," sapa
Fauzan dengan suara berat yang menggetarkan kursi penumpang.
"Pagi, Mas Fauzan... iya, biar sehat," jawab Ifah gugup, tangannya meremas
ujung jaketnya.
Fauzan tidak membawa mobil itu ke taman kota. Ia justru memacu SUV-nya ke
sebuah jalan setapak di pinggiran hutan kota yang masih sangat sepi. Ia
memarkirkan mobilnya di bawah pohon rindang, membiarkan mesin dan AC
tetap menyala, menciptakan ruang kedap yang sangat privat.
Fauzan memutar tubuhnya, menatap Ifah dengan pandangan "lapar". "Bu
Ifah... di sini cuma ada kita berdua. Lepas hijab kamu. Saya mau liat apa yang
selama ini kamu sembunyiin dari mata tetangga."
Dengan tangan gemetar, Ifah perlahan melepas hijab instannya.
Rambut
hitamnya terurai jatuh, dan leher putih mulusnya kini terekspos sepenuhnya.
Fauzan mendesah kasar. Ia mendekat, tangannya yang besar dan kasar meraih
tengkuk Ifah, lalu menariknya dalam sebuah ciuman yang sangat dalam.
Mulut mereka bertaut. Fauzan melumat bibir Ifah dengan sangat intens,
memaksa lidahnya masuk ke dalam mulut Ifah. Suara kecapan basah dari
pertukaran ludah mereka memenuhi kabin mobil. Ifah merintih, ia merasakan
lidah Fauzan yang panjang menjelajahi setiap sudut rongga mulutnya,
mengaduk-ngaduk ludahnya hingga meluber ke dagu.
"Mas... ahh... Mas Fauzan..." desah Ifah di sela ciuman panas itu.
Fauzan melepaskan jaket Ifah, memperlihatkan kaos ketat yang
memperlihatkan puting Ifah yang menegang karena kedinginan AC dan gairah.
"Gila... ternyata kamu gak pake bra ya? Kamu sengaja mau pamer ke saya?"
Fauzan langsung meremas payudara Ifah yang menggantung indah,
memelintir putingnya hingga Ifah membusungkan dada dan merintih kotor.
Fauzan semakin berani. Ia menurunkan sandaran kursi Ifah hingga ia bisa
leluasa bergerak. Tangannya turun ke bawah, menyusup ke dalam legging Ifah
yang sudah sangat basah di bagian tengahnya. Begitu jari-jari Fauzan
menyentuh memek Ifah yang becek,
Ifah langsung tersentak.
Fauzan mulai melakukan "colmek" yang sangat lihai. Jari-jarinya mengadukngaduk liang kewanitaan Ifah yang sempit, sementara ibu jarinya menekan
klitoris Ifah dengan ritme yang cepat. "Liat ini, Ifah... baru dipegang aja air
kamu udah banjir begini. Kamu bener-bener istri solehah yang haus sentuhan
laki-laki lain ya?"
Ifah tidak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa mendongak, matanya putih
karena kenikmatan yang luar biasa. Saat Fauzan mempercepat gerakannya,
tubuh Ifah menegang hebat. Ia mengalami squirting, menyemprotkan cairan
bening yang membasahi tangan Fauzan dan jok mobil. Ifah orgasme dengan
suara desahan yang sangat pecah di dalam mobil itu.
Setelah napas mereka mulai stabil, Fauzan berbisik sambil menjilati sisa cairan
di jarinya sendiri, "Minggu depan kita check-in. Saya mau ngentot kamu
bener-bener di kasur. Saya mau masukin kontol saya ke dalem rahim kamu
sampai kamu ampun-ampun. Setuju?"
Ifah hanya bisa mengangguk lemas, "Iya Mas... terserah Mas Fauzan.."
Setelah kejadian itu, Ifah akhirnya pulang ke rumah. Di dalam rumah, Putra
langsung menarik Ifah ke kamar dan segera mengunci pintu kamar. Ia
menuntun Ifah ke tengah ranjang, membiarkan istrinya yang masih lemas dan
gemetar itu duduk bersandar. Nafas Ifah masih memburu, matanya sayu, dan
hijabnya sudah tidak berbentuk lagi di pundak.
"Sini, Ma... biarkan Papa lihat apa yang dilakukan Mas Fauzan ke istri sholehah
Papa sore ini," bisik Putra dengan suara serak yang penuh gairah.
1. Menikmati Aroma dan Sisa Ciuman
Putra mencengkeram rahang Ifah, memaksa istrinya membuka mulut. Ia
mendekatkan hidungnya, menghirup dalam-dalam aroma napas Ifah yang kini
bercampur dengan aroma tembakau dan parfum maskulin Fauzan yang tajam.
Tanpa ragu, Putra melumat bibir Ifah yang sudah bengkak itu.
Ia merasakan sisa-isisa ludah Fauzan yang masih kental di sela-sela gigi dan
lidah Ifah. Putra menghisapnya dengan rakus, seolah-olah ia sedang berbagi
ciuman langsung dengan Fauzan melalui perantara mulut istrinya. "Mulut
Mama bau Mas Fauzan banget... bau jantan yang kuat. Papa suka banget liat
Mama kotor begini," gumam Putra sambil menjilati sisa dahak dan saliva yang
meluber di sudut bibir Ifah.
2. Jejak Kekerasan di Leher dan Dada
Putra perlahan membuka kancing jaket Ifah. Ia terkesiap melihat leher putih
istrinya kini penuh dengan cupang merah keunguan—tanda kepemilikan yang
ditinggalkan Fauzan dengan sangat kasar. Putra menjilati setiap bekas merah
itu satu per satu. Ia merasakan sisa liur Fauzan yang mulai mengering namun
masih meninggalkan aroma yang khas di kulit leher Ifah.
"Mas Fauzan bener-bener kayak binatang ya, Ma? Dia gigit leher Mama
seolah-olah Mama ini miliknya," ujar Putra sambil meraba bekas remasan
tangan Fauzan di payudara Ifah yang memerah.
3. Ritual Pembersihan Memek yang Becek
Puncaknya, Putra perlahan menurunkan legging ketat Ifah yang sudah terasa
lembap. Begitu kain itu terlepas, aroma "wanita" yang sedang terangsang
hebat bercampur dengan aroma keringat Fauzan menyeruak. Putra berlutut di
bawah kaki Ifah yang terbuka lebar.
Di sana, di antara lipatan memek Ifah yang masih merah dan terbuka bekas di-
"colmek" habis-habisan, cairan bening sisa squirting Ifah masih berkilau. Putra
mengusap lendir itu dengan jarinya, merasakan teksturnya yang licin dan
lengket.
"Liat ini, Ma... memek Mama sampai bengkak dan banjir begini gara-gara jari
Mas Fauzan. Tetangga kita itu bener-bener pinter bikin istri Papa jadi lonte di
mobilnya." Putra mulai membenamkan wajahnya di selangkangan Ifah,
menjilati setiap tetes cairan sisa kenikmatan dari tangan Fauzan. Ia meminum
"kehinaan" itu dengan penuh pemujaan, membiarkan wajahnya basah oleh
sisa-sisa perbuatan mesum tetangganya.
4. Instruksi untuk Kehancuran Selanjutnya
Setelah merasa puas "membersihkan" istrinya, Putra menatap mata Ifah yang
masih kosong karena sisa orgasme. "Mama denger Papa baik-baik. Papa
dukung Mama buat check-in minggu depan. Papa mau Mas Fauzan nggak
cuma pake jarinya, tapi pake kontol-nya yang gede itu buat ngobok-ngobok
rahim Mama."
Putra merangkul Ifah erat, "Papa mau Mama dapet pelayanan yang lebih kotor
lagi dari Mas Fauzan. Ceritain setiap detiknya ke Papa nanti, ya?"
Episode 3 – Benih Terlarang di Kamar Hotel Nomor 404
Minggu pagi yang mendung menjadi saksi bisu pengkhianatan yang paling
dinantikan. Sesuai rencana yang telah direstui Putra, Ifah melangkah keluar
rumah dengan penampilan yang sedikit berbeda. Di balik gamis hitam dan
hijab lebarnya, ia hanya mengenakan lingerie sutra merah marun yang sangat
tipis—tanpa bra, tanpa celana dalam.
Fauzan sudah menunggu di tempat biasa. Kali ini, tujuannya bukan taman
kota, melainkan sebuah hotel butik di pinggiran kota. Kamar 404. Begitu pintu
kamar tertutup dan terkunci, suasana langsung berubah menjadi panas dan
menyesakkan.
Fauzan tidak membuang waktu. Ia menyandarkan tubuh Ifah ke pintu,
tangannya yang besar langsung meraup wajah Ifah dan melumat bibirnya
dengan sangat kasar. Bau napas Fauzan yang maskulin dan dominan menyatu
dengan desahan pasrah Ifah.
"Kamu wangi sekali hari ini, Ifah... Wangi wanita yang sudah siap saya
hancurkan," bisik Fauzan di sela-sela ciuman mereka yang basah.
Fauzan mulai menanggalkan hijab Ifah, membiarkan kain suci itu jatuh ke
lantai begitu saja. Saat gamis Ifah dilepaskan, Fauzan terkesiap melihat tubuh
Ifah yang hanya dibalut kain sutra tipis. Payudara Ifah yang montok terlihat
jelas dengan puting yang menegang keras menabrak kain merah itu.
"Gila... kamu bener-bener dateng ke sini buat jadi pemuas saya ya?" Fauzan
langsung mengangkat tubuh Ifah dan membantingnya pelan ke atas kasur
king size.
Fauzan membuka seluruh pakaiannya, memamerkan tubuhnya yang atletis dan berurat. Saat ia memperlihatkan kejantanannya yang besar dan menegang
sempurna, mata Ifah membelalak. Ini pertama kalinya ia melihat milik
tetangganya secara langsung—jauh lebih besar dan mengintimidasi daripada
milik suaminya.
"Sini, Ifah... layani saya," perintah Fauzan.
Ifah merangkak mendekat, ia menjilati dan menghisap ujung kejantanan
Fauzan dengan penuh gairah, melakukan deepthroat hingga ia hampir
tersedak, sementara tangan Fauzan mencengkeram rambut Ifah dengan kuat.
Suara kecapan dan desahan kotor memenuhi kamar itu.
Tak tahan lagi, Fauzan membalikkan tubuh Ifah. Ia memposisikan Ifah dalam
posisi doggy style, memamerkan bokong Ifah yang putih dan padat. Tanpa
pelumas, Fauzan langsung menghantamkan kontol-nya masuk ke dalam
memek Ifah yang sudah banjir becek.
"Ahhh! Mas Fauzan! Gede banget... sakit tapi enak banget, Mas!" teriak Ifah
sambil mencengkeram sprei.
Fauzan mulai memompa dengan ritme yang brutal. Setiap hantaman
terdengar suara plok-plok yang nyaring, perpaduan antara kulit yang beradu
dan cairan kewanitaan Ifah yang meluber. Fauzan meremas pinggul Ifah,
menariknya agar setiap tusukannya mencapai pangkal rahim Ifah.
Kamar 404 telah berubah menjadi medan pertempuran gairah yang
menyesakkan. Bau keringat yang jantan, parfum maskulin Fauzan, dan aroma
kewanitaan Ifah yang sedang meledak menyatu di udara yang pengap. Tubuh
Ifah yang putih bersih kini kontras dengan tangan Fauzan yang kecokelatan
dan berurat saat ia menghantam Ifah dari belakang tanpa ampun.
Setiap tumbukan kontol Fauzan yang besar dan tegang membuat tubuh Ifah
terayun ke depan, dadanya yang montok bergoyang liar mengikuti irama
doggy style yang brutal. Fauzan tidak lagi bermain lembut; ia mencengkeram
pinggul Ifah hingga meninggalkan bekas kemerahan yang nyata.
Puncak Dialog Benih Terlarang
Fauzan mencondongkan tubuhnya ke telinga Ifah yang sedang merintih
kencang. Ia menggigit daun telinga Ifah, suaranya serak dan sangat dominan.
"Dengerin saya, Ifah... Saya nggak mau cuma 'main' di sini. Saya mau nandain
kamu secara permanen. Saya mau ngentot kamu sampai rahim kamu penuh
sama peju saya. Saya mau kamu hamil anak saya, Ifah! Bukan anak si Putra
yang lemah dan kontolnya kecil itu" bisik Fauzan sambil menghantamkan
pangkal paha mereka hingga terdengar suara plok-plok yang sangat nyaring
Ifah mendongak, matanya putih karena kenikmatan yang menyiksa. "Ahhh! Iya
Mas... Hamilin Ifah! Masukin semua benih Mas Fauzan ke dalem! Aku mau
perut aku buncit karena isi peju Mas... Ifah mau punya anak dari laki-laki sejati
kayak Mas Fauzan!"
Fauzan tersenyum licik, ia semakin memperdalam setiap tusukannya, seolah
ingin menyentuh dasar rahim Ifah. "Kalau kamu hamil nanti, saya nggak akan
berhenti, Ifah. Saya bakal terus ngentot kamu biarpun perut kamu udah besar.
Saya mau anak saya di dalem sana ngerasain hantaman kontol bapaknya
setiap malam. Kamu mau?"
"Mau, Mas! Ahh... ampun, Mas! Biarpun Ifah lagi hamil besar, Mas Fauzan harus
tetep ngentot Ifah kasar begini! Ifah mau ngerasain kontol Mas Fauzan beradu
sama bayinya di dalem!" jerit Ifah dengan bahasa yang sangat kotor,
kehilangan seluruh martabatnya sebagai istri sholehah.
Ifah semakin liar, ia memundurkan pinggulnya agar Fauzan bisa masuk lebih
dalam lagi. "Bahkan... bahkan pas nanti waktunya lahiran, pas perut Ifah udah
mules-mulesnya... Mas Fauzan harus tetep ngentot Ifah di kasur RS! Entotin
Ifah terus sampai bayinya keluar, Mas! Biar anak itu tau kalau dia lahir dari hasil
entotan hebat Mas Fauzan ke Ibu londenya ini!"
Mendengar janji penyerahan diri yang begitu total, Fauzan tidak bisa menahan
diri lagi. Ia menarik rambut Ifah ke belakang, memaksanya menoleh, lalu
melumat bibirnya dengan sangat kasar sambil mempercepat pompanya secara
brutal.
"Pinter... Lonte kesayangan saya!" geram Fauzan.
Pada hantaman terakhir yang sangat dalam, Fauzan menekan pinggulnya kuatkuat ke pantat Ifah. Seluruh otot tubuhnya menegang saat ia memancurkan
peju panasnya yang sangat banyak langsung ke mulut rahim Ifah. Ifah bergetar
hebat, ia mengalami orgasme yang membuatnya lemas tak berdaya di atas
sprei yang sudah basah kuyup.
Beberapa saat kemudian, Ifah kembali ke rumah dengan langkah yang
gemetar. Di dalam kamar, Putra sudah menunggu dengan kamera di
tangannya. Ia melihat Ifah yang tampak "berantakan" secara fisik dan mental.
"Gimana, Ma? Udah dapet benih Mas Fauzan?" tanya Putra sambil berlutut di
depan Ifah.
Putra menarik Ifah ke tengah ranjang, memaksanya duduk bersandar
sementara Putra berlutut di antara kedua kaki istrinya. Ia melihat gamis Ifah
yang kusut dan noda basah yang mulai mengering di bagian paha—jejak
nyata dari gempuran Fauzan.
"Ceritain ke Papa, Ma... Jangan ada yang lewat satu detik pun. Gimana rasanya
jadi wadah sperma pria lain?" bisik Putra, suaranya bergetar hebat.
Ifah mendesah, memori tentang hantaman Fauzan di hotel tadi membuat
tubuhnya kembali meremang. "Mas Fauzan... dia bener-bener binatang, Pa. Dia
nggak peduli aku kesakitan. Dia ngentot aku kasar banget sampai aku ampunampun. Dan pas dia mau keluar... dia bisikin kalau dia mau punya anak dari
aku. Dia bilang rahim aku terlalu berharga kalau cuma diisi sama punya Papa
yang 'biasa' aja."
Putra memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu menyayat harga dirinya
sekaligus membakar gairahnya. Inilah dark psychology yang ia cari: rasa tidak
berdaya yang absolut.
"Lalu... kamu terima, Ma? Kamu biarkan dia muncratin semuanya di dalem?"
tanya Putra mendesak.
"Iya, Pa... Aku bilang, 'Hamilin Ifah, Mas! Isi rahim Ifah sampai penuh!'. Aku
biarin dia neken rahim aku sedalem mungkin pas dia keluarin peju-nya yang
panas itu. Rasanya... rasanya kayak aku bener-bener udah jadi milik Mas
Fauzan seutuhnya."
Mendengar itu, Putra justru menggenggam tangan Ifah dengan erat, matanya
berkaca-kaca karena gairah yang sakit
"Ma... Papa mohon sama Mama. Tolong... tolong jadi bunting karena Fauzan.
Papa mau liat perut Mama besar, bukan karena benih Papa, tapi karena hasil
entotan tetangga kita itu. Papa mau setiap kali kita jalan di komplek, orangorang liat Mama hamil, tapi cuma kita bertiga yang tau kalau di dalem sana
ada darah daging Fauzan yang lagi tumbuh."
Putra mulai menciumi perut Ifah dengan rakus, seolah mencoba merasakan
"kehadiran" cairan Fauzan di dalam sana.
"Bayangin, Ma... tiap malam pas Mama lagi hamil besar, Mas Fauzan akan
entotin mama. Dia ngentot Mama brutal banget, dia hajar rahim dan perut
Mama. Papa mau liat Mama merintih kotor sambil bilang kalau Mama bangga
jadi pabrik anak buat Mas Fauzan. Papa mohon, Ma... jangan minum pil KB,
jangan pake pengaman. Biarin Fauzan 'ngisi' Mama tiap hari sampai Mama
bener-bener mual dan telat bulan."
Ifah menarik rambut Putra, memaksa suaminya mendongak. Di matanya kini
tidak ada lagi sisa kesholehan, yang ada hanyalah gairah londenya yang sudah
bangun sepenuhnya.
"Papa beneran mau liat aku jadi pabrik anaknya Mas Fauzan? Papa siap denger
tiap malem aku teriak manggil nama dia pas dia lagi ngentot aku biarpun
perut aku udah buncit?" tantang Ifah.
"Siap, Ma! Papa siap! Itu puncak kehinaan Papa sebagai suami! Papa mau jadi
saksi pas bayi itu lahir nanti, kalau orang pertama yang ngentot Mama pasca
lahiran juga harus Mas Fauzan! Biar dia 'nandain' Mama lagi sebelum darah
nifas Mama berhenti!" seru Putra liar.
Putra kemudian mulai menjilati sisa peju Fauzan yang masih meluber di paha
Ifah, meminumnya seolah itu adalah ramuan suci yang akan mewujudkan
mimpinya melihat istrinya hamil oleh pria lain. Ia merayakan setiap inci
kehinaan ini, mempersiapkan mentalnya untuk melihat Ifah yang berhijab
anggun, perlahan-lahan berubah menjadi wanita hamil yang perutnya adalah
monumen kemenangan Fauzan
Episode 4 – Menikmati Bekas Benih Sang
Predator
Melanjutkan cerita lebih detail pasca ifah checkin dengan Fauzan. Di dalam
kamar utama yang temaram dan pengap oleh aroma pengkhianatan Ifah dan
Fauzan, Ifah sang istri yang baru saja melakukan perzinahan terlarang
dengan sang tetangga Fauzan terduduk sayu di tepi ranjang. Ia masih
mengenakan hijab instannya yang kini sudah berantakan dan basah oleh
keringat. Putra berlutut di depannya, menatap dengan mata yang berkilat penuh pemujaan pada sosok istrinya yang baru saja "dijajah" oleh kegagahan
Fauzan. Apalagi terlihat leher jenjang yang dihiasi beberapa tahi lalat kecil
yang kini dipenuhi cupang Fauzan.
Dalam situasi ini, fauzan, sang predator, masih mengira ia sedang melakukan
perselingkuhan gelap di belakang Putra. Ia tidak tahu bahwa setiap hantaman
dan setiap tetes benihnya adalah pertunjukan yang paling dinantikan oleh
suami "pecundang" di hadapan Ifah ini.
Ifah menatap Putra dengan tatapan yang sangat kompleks—perpaduan antara
sisa gairah dari Fauzan dan penghinaan yang halus namun mematikan untuk
suaminya. Ia mengelus rambut Putra dengan lembut, namun kata-katanya
menyayat.
"Papa... maaf ya, Mama pulang terlambat. Tadi Mas Fauzan bener-bener gak
kasih Mama napas di hotel," bisik Ifah, suaranya serak habis merintih di bawah
tubuh Fauzan. "Mas Fauzan itu... dia pikir dia lagi curi-curi waktu dari Papa. Dia
bilang, 'Istri Putra ini kalau sudah dientot kok malah makin bikin ketagihan,
pasti suaminya nggak pernah bikin dia begini'."
Putra gemetar hebat. Ia meraih tangan Ifah dan menciumnya rakus. "Nggak
apa-apa, Ma... Papa seneng dengernya. Papa seneng kalau Mas Fauzan merasa
lebih hebat dari Papa."
Ifah kembali menyingkap gamisnya ke atas, memperlihatkan paha putihnya
yang kini ternoda. Cairan kental, putih, dan pekat milik Fauzan tampak
meluber keluar dari memek Ifah yang masih merah dan terbuka lebar. Benih
itu mengalir perlahan, membasahi sprei tempat mereka biasanya tidur.
"Liat ini, Papa... Mas Fauzan tadi keluarin semuanya di dalem. Dia nggak pake
pengaman sama sekali. Dia bilang dia mau liat Mama hamil anak dia," ucap
Ifah dengan nada tenang yang menghina. "Dia nggak tau kalau Papa yang
minta ini semua. Dia pikir dia sudah berhasil 'merusak' istri sholehah Papa."
Putra tidak bisa menahan diri lagi. Ia naik ke atas ranjang, memposisikan
dirinya di antara kaki Ifah yang terbuka. Ia melihat kejantanannya sendiri yang
terasa kerdil jika dibandingkan dengan apa yang baru saja dirasakan Ifah.
Putra menghujamkan miliknya ke dalam memek Ifah yang sudah sangat
terbuka dan becek.
Bunyi plok-plok yang basah dan licin terdengar menggema
di kamar itu, karena setiap dorongan Putra terlumasi oleh sisa peju kental
milik Fauzan yang masih hangat di dalam rahim Ifah.
"Ahhh... Papa... pelan sekali," desah Ifah, suaranya terdengar malas seolah
membandingkan kekuatan Putra dengan hantaman Fauzan yang brutal di
hotel tadi. "Rasanya gimana, Pa? Rasanya ngentot istri sendiri yang di dalemnya lagi banjir sama cairan tetangga?"
Putra memejamkan mata, wajahnya memerah karena adrenalin yang sakit.
"Enak banget, Ma... hangat... Papa bisa ngerasain lendir Mas Fauzan melumasi
punya Papa. Papa ngerasa kecil banget di dalem sini, Ma... Papa ngerasa kayak
lagi berenang di bekas kemenangan Mas Fauzan."
Putra mengerang tertahan, pinggulnya bergerak maju-mundur dengan ritme
yang terasa menyedihkan jika dibandingkan dengan gempuran brutal yang
baru saja diterima Ifah di Kamar 404. Setiap kali kejantanan Putra menghujam
masuk, terdengar suara slurrp-plok yang menjijikkan—suara gesekan kulit
yang terlumasi oleh samudera peju kental milik Fauzan yang masih panas di
dalam rahim Ifah.
Ifah menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, membiarkan tubuhnya
digoyang oleh suaminya tanpa niat membalas dekapan Putra. Matanya
menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang menghina.
"Pa... kerasa nggak bedanya?" bisik Ifah, suaranya serak dan berat. "Tadi Mas
Fauzan nggak cuma main pelan kayak Papa. Dia cengkeram rambut Ifah, dia
paksa Ifah nungging sampai pinggang Ifah mau patah. Pas dia crot di dalem
tadi... rasanya seperti rahim Ifah disiram semen panas. Begitu banyak, Pa...
sampai Ifah ngerasa perut Ifah penuh banget sama benih dia."
Putra semakin menggila. Ia menciumi bekas-bekas cupang Fauzan di leher
Ifah, tepat di deretan tahi lalat kecil yang kini warnanya memerah keunguan.
"Iya, Ma... Papa bisa ngerasain lendir Mas Fauzan di ujung punya Papa.
Rasanya licin banget, amis, dan jantan banget. Papa ngerasa hina banget, Ma...
Papa ngerasa kayak lagi 'membersihkan' sisa pesta Mas Fauzan di tubuh
Mama."
Putra mempercepat gerakannya, meskipun ia tahu ia tidak akan pernah bisa
menyamai kekuatan Fauzan. Adrenalin sebagai suami yang "terkalahkan" justru
membuatnya mencapai puncak kegilaan.
"Katakan lagi, Ma... bilang kalau Papa cuma dapet sisanya!" rintih Putra sambil
terengah-engah.
Ifah tertawa kecil, sebuah tawa yang merendahkan. "Papa memang cuma
dapet ampasnya. Mas Fauzan tadi benar-benar menghancurkan Ifah. Dia
bilang, 'Putra itu nggak becus jagain barang bagus kayak gini, makanya biar
saya yang rusak sekalian'.
Dan sekarang Papa malah menikmati bekas rusak
itu? Papa bener-bener suami yang sakit."
Putra mencapai puncaknya. Dengan satu hentakan terakhir yang lemah, ia
memancurkan benihnya ke dalam diri Ifah. Namun, saat ia mencabut miliknya, yang terlihat bukan hanya cairannya sendiri, melainkan gumpalan putih kental
—perpaduan antara benihnya yang sedikit dengan peju melimpah milik
Fauzan yang kembali meluber keluar dari memek Ifah yang sudah longgar.
"Liat itu, Pa..." Ifah menunjuk ke arah selangkangannya yang banjir noda putih.
"Benih Papa kalah banyak. Benih Mas Fauzan yang menguasai rahim Ifah
malam ini. Papa cuma numpang lewat di atas bekas kemenangan tetangga kita
sendiri."
Putra ambruk di samping Ifah, napasnya memburu. Ia menatap sprei
pengantin mereka yang kini ternoda hebat oleh percampuran benih dua pria.
Di dalam hatinya, Putra merasa sangat puas; ia telah berhasil mengubah
istrinya menjadi "bejana" bagi kegagahan pria lain, tepat di bawah hidungnya
sendiri tanpa Fauzan menyadari perannya sebagai tontonan.
Putra masih terengah-engah, tubuhnya ambruk di samping Ifah yang masih
dalam posisi paha terbuka lebar, membiarkan percampuran benih itu terus
merembes keluar. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong
yang dipenuhi obsesi gelap, sementara tangannya yang gemetar meraba
bekas cupang Fauzan di leher Ifah.
"Ma..." suara Putra serak, berat karena sisa gairah yang menyimpang. "Papa
mau hubungan ini makin gila. Papa nggak mau Mas Fauzan cuma sekali-sekali
'ngewe' Mama di hotel. Papa mau dia ngerasa punya hak penuh atas tubuh
Mama. Papa mau dia dateng ke rumah ini kapan aja dia mau, seolah-olah dia
itu pemilik asli Mama, dan Papa cuma pelayan di sini."
Ifah menoleh perlahan, rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian
wajahnya yang masih memerah. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma
maskulin Fauzan yang masih tertinggal kuat di kulitnya sendiri.
"Papa serius?" bisik Ifah. "Tadi Mas Fauzan bilang... dia pengen banget dapet
kunci cadangan rumah ini. Dia bilang dia mau bikin kejutan buat Ifah pas Papa
lagi kerja. Dia pengen ngentot Ifah di dapur, di ruang tamu, bahkan di kamar
pengantin kita kalau dia lagi pengen."
Putra tersenyum lebar, sebuah senyuman yang mengerikan. "Itu dia! Itu yang
Papa mau! Papa bakal kasih kunci cadangan itu ke dia lewat dalih 'titip rumah'.
Biar dia bebas 'pakai' Mama. Papa mau pulang kerja dan nemuin Mama lagi
nungging di sofa, penuh sama peju kental dia yang belum kering. Papa mau
ngerasain sensasi jadi suami yang nggak punya kuasa apa-apa di rumah
sendiri!"
Ifah terdiam sejenak, ia bangkit sedikit dan bersandar pada bantal yang sudah
basah oleh keringat. Ia menatap lurus ke mata Putra dengan kejujuran yang
menghancurkan.
"Pa... Ifah harus jujur," suara Ifah bergetar. "Ifah mulai... ketagihan. Pas Mas
Fauzan tadi angkat kaki Ifah ke bahunya dan menghantam rahim Ifah sampai
dasarnya... Ifah ngerasa Papa itu kayak nggak ada harganya. Punya Mas Fauzan
itu panas, besar, dan cara dia ngewe itu kayak binatang. Ifah ngerasa sakaw,
Pa. Ifah pengen ngerasain itu setiap hari. Ifah pengen rahim Ifah selalu penuh
sama benih dia sampai perut Ifah buncit anak dia."
Ifah mencengkeram sprei dengan kuat. "Ifah takut, Pa... Ifah takut kalau suatu
saat Ifah bakal lebih dengerin perintah Mas Fauzan daripada perintah Papa.
Karena pas dia di dalem... Ifah ngerasa dia adalah Tuan bagi tubuh Ifah."
Putra justru terlihat semakin puas mendengar pengakuan itu. Ia meraih tangan
Ifah dan meletakkannya di atas kejantannya yang kembali berdenyut.
"Bagus, Ma... itu yang Papa cari. Papa mau Mama bener-bener jadi budak dia.
Papa mau Mama nurut apa aja kata Mas Fauzan, bahkan kalau dia suruh Mama
melayani temen-temennya sekalipun. Papa bakal dukung itu semua dari balik
pintu. Kita bakal bikin Mas Fauzan ngerasa dia adalah raja di rahim Mama,
tanpa dia tau kalau semua ini adalah 'hadiah' dari Papa."
Malam itu, mereka berdua tenggelam dalam rencana busuk. Putra sudah
membayangkan bagaimana esok hari ia akan menyerahkan kunci rumah
kepada Fauzan, memberikan akses penuh bagi sang predator untuk terus
"mengaduk" rahim istrinya kapan saja.
Episode 5 : Penyerahan Kunci Rumah selama Dinas kepada Fauzan
Sore itu, suasana komplek terasa gerah. Putra sengaja menyibukkan diri di
garasi, berpura-pura memeriksa mesin mobilnya yang kapnya terbuka lebar. Ia
tahu persis jadwal Fauzan pulang kerja. Benar saja, deru motor besar Fauzan
terdengar memasuki gang, dan pria kekar itu berhenti tepat di depan pagar
rumah Putra.
"Waduh, kenapa mobilnya, Mas Put? Mogok lagi?" tegur Fauzan sambil
membuka helm, memamerkan rambutnya yang acak-acakan dan kaos yang
basah oleh keringat, menonjolkan otot lengannya yang berurat.
Putra menyeka keringat di dahinya, aktingnya sempurna. "Eh, Mas Fauzan.
Enggak tahu nih, Mas. Agak berebet mesinnya. Padahal besok pagi-pagi buta
saya harus dinas ke luar kota dua hari. Mana Ifah lagi kurang enak badan, saya
jadi kepikiran mau ninggalin dia sendirian."
Fauzan turun dari motornya, melangkah masuk ke garasi dengan gestur
dominan. "Keluar kota dua hari? Jauh Mas?"
"Iya, Mas. Ke pesisir. Sinyal susah di sana. Makanya saya agak cemas," Putra
memancing, suaranya dibuat agak rendah dan lemas. "Ifah itu penakut, Mas.
Apalagi kalau malam, dia sering lupa kunci pintu belakang karena panik
sendirian. Mana daster tidurnya itu... Mas tahu sendiri kan, anak muda
sekarang kalau tidur suka sembarangan, nggak sadar auratnya ke manamana."
Fauzan menyeringai, matanya berkilat saat membayangkan Ifah yang tertidur
lelap dengan daster tersingkap. "Ya namanya juga perempuan, Mas Put. Butuh
perlindungan."
Putra memancing lebih dalam. "Itu dia, Mas. Saya sebenernya mau minta
tolong Pak RT, tapi saya nggak sreg. Mas Fauzan kan sudah saya anggap kakak sendiri. Ifah juga segan banget sama Mas. Dia bilang kalau liat Mas Fauzan itu
bawaannya 'takut tapi nurut', beda kalau sama saya yang dia remehin terus."
Putra merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan kulit.
"Ini kunci cadangan rumah saya, Mas. Tolong ya, kalau besok-besok Mas
denger Ifah rintih-rintih ketakutan atau ada suara mencurigakan dari kamar
kami, Mas langsung masuk aja. Nggak usah ketok, langsung cek ke kamarnya.
Saya malah tenang kalau Mas Fauzan yang 'menangani' Ifah langsung. Mas
bebas mau 'didik' dia gimana supaya nggak penakut lagi selama saya nggak
ada."
Fauzan menerima kunci itu. Jarinya sengaja bersentuhan dengan tangan Putra,
sebuah simbol perpindahan kekuasaan. "Beres, Mas Put. Saya bakal seringsering 'nengok' Ifah. Saya pastikan dia nggak bakal ngerasa kesepian... atau
kekurangan 'perhatian'."
Malam harinya, Putra membantu Ifah bersiap. Di bawah guyuran shower, Putra
mengelus perut istrinya yang mulus. "Ma, kunci sudah di tangan Mas Fauzan.
Dia bakal dateng begitu Papa berangkat subuh nanti."
benar-benar licin. "Papa mau selama dua hari ini, Mama jadi 'milik' Mas
Fauzan seutuhnya. Jangan pakai dalaman sama sekali. Papa sudah siapin
pelumas di laci meja makan, biar Mas Fauzan gampang kalau mau 'hajar'
Mama sambil sarapan."
Ifah merintih, tubuhnya bergetar hebat antara takut dan gairah yang
memuncak. "Iya, Pa... Ifah bakal nurut. Ifah bakal biarkan Mas Fauzan ngelakuin
apa aja. Ifah pengen rahim Ifah penuh sama benih dia pas Papa pulang nanti."
Chat Nakal Fauzan
Malam semakin larut, Putra sedang sibuk mengepak koper di depan lemari. Di
atas nakas, ponsel Ifah bergetar berkali-kali. Dengan tangan gemetar, Ifah
membukanya. Putra melirik dari balik bahu istrinya, senyum tipis kepuasan
muncul di wajahnya melihat nama "Mas Fauzan" di layar.
Fauzan: "Sudah tidur, Istri Sholehah? Atau lagi sibuk melayani suami lemasmu
itu buat terakhir kalinya sebelum dia pergi?"
Ifah: "Belum, Mas... Mas Putra lagi siapin baju. Aku lagi deg-degan..."
Fauzan: "Bagus kalau deg-degan. Besok begitu mobil Putra keluar dari gang,
jangan berani-berani kunci pintu depan. Saya punya kuncinya, tapi saya mau
kamu yang buka jalan buat saya.
Tunggu saya di meja makan, posisikan dirimu
nungging, angkat dastermu sampai ke leher. Saya nggak mau liat sehelai benang pun menutupi rahimmu."
Ifah: "Mas... jangan galak-galak. Ifah takut kalau Mas Fauzan langsung kasar..."
Fauzan: "Takut tapi basah kan? Saya tahu kamu ketagihan sama barang saya
yang jauh lebih besar dari punya Putra. Besok saya nggak akan kasih kamu
napas. Dua hari ini, rumah itu jadi milik saya. Saya mau ngentot kamu di setiap
sudut rumah. Di dapur sambil kamu masak, di kamar mandi, bahkan di depan
foto pernikahanmu sama Putra. Saya mau penuhin rahim kamu sama peju
kental saya sampai kamu nggak bisa jalan tegak pas suamimu pulang."
Ifah: "Ahhh Mas... Mas Fauzan jahat banget ngomongnya. Tapi Ifah nggak
sabar... Ifah pengen ngerasain punya Mas yang panas itu ngaduk-ngaduk
rahim Ifah lagi. Ifah janji nggak akan pakai celana dalam selama Mas Putra
pergi."
Fauzan: "Pinter.
Siapin juga minyak pelumas yang paling licin. Saya mau hajar
lubangmu sampai merah merona. Kalau kamu berani ngelawan sedikit aja,
saya bakal ikat tangan kamu di kaki meja. Kamu itu cuma wadah pembuangan
saya sekarang, Ifah. Ingat itu. Besok pagi, kamu resmi jadi lonte saya."
Ifah: "Iya, Mas... Ifah milik Mas Fauzan. Ifah siap dihancurin besok pagi. Tolong
buat Ifah hamil anak Mas ya..."
Fauzan: "Pasti. Saya bakal siram rahim kamu berkali-kali sampai benih saya
menang di dalam sana. Tidurlah, simpan tenagamu buat pertempuran besok
subuh. Saya sudah nggak sabar mau denger teriakan minta ampunmu."
Putra yang membaca pesan itu dari balik bahu Ifah hanya bisa menarik napas
dalam, kejantannya menegang hebat. Ia mencium tengkuk Ifah yang
berkeringat. "Denger itu, Ma? Mas Fauzan sudah nggak sabar. Papa berangkat
subuh nanti dengan tenang karena tahu istri Papa bakal dijajah habis-habisan
sama laki-laki sejati."
Episode 6: Ifah dan Fauzi di rumah Putra
Suara mobil Putra perlahan menghilang di ujung gang, meninggalkan
kesunyian mencekam di rumah itu. Sesuai instruksi suaminya, Ifah tidak
mengunci pintu depan. Ia melangkah ke kamar, mencuci tubuhnya, dan
mengenakan mukena putih bersih. Di atas sajadah, ia memulai shalat subuh
dengan jantung yang berdegup kencang—bukan karena khusyuk, melainkan
karena ketegangan syahwat yang menantinya. Saat Ifah melakukan salam terakhir, telinganya menangkap suara pintu depan
yang terbuka perlahan. Langkah kaki berat dan mantap mendekat ke arah
kamar salat. Belum sempat Ifah melipat sajadahnya, sosok raksasa Fauzan
sudah berdiri di ambang pintu. Ia hanya mengenakan sarung yang tersingkap,
memamerkan dada bidangnya yang berbulu dan berpeluh.
"Sudah selesai lapor sama Tuhan, Istri Sholehah?" suara Fauzan berat, serak,
dan penuh intimidasi.
Ifah gemetar, masih dalam posisi duduk di atas sajadah. "M-mas Fauzan... Mas
sudah datang? Mas Putra baru saja berangkat 10 menit yang lalu..."
Fauzan tidak menjawab. Ia melangkah maju, mencengkeram rahang Ifah dan
memaksanya mendongak. "Saya nggak butuh basa-basi. Tadi malam di
WhatsApp saya bilang apa? Kamu milik saya selama dua hari ini!"
Dengan satu sentakan kasar, Fauzan menyingkap mukena bagian bawah Ifah.
Matanya berkilat puas melihat Ifah benar-benar mematuhi perintah Putra
untuk tidak mengenakan celana dalam. Area kewanitaan Ifah yang sudah
dicukur licin tampak merah merona dan sudah banjir oleh cairan gairah yang
tertahan.
Fauzan segera melepaskan sarungnya, memamerkan kejantannya yang hitam,
besar, berurat, dan sudah menegang maksimal—seperti monster yang siap
menerkam. Ia memaksa Ifah untuk menungging di atas sajadahnya sendiri,
masih dengan mukena yang menutupi kepala dan punggungnya.
"Ahhh! Mas Fauzan! Jangan di sini... ini tempat ibadah..." rintih Ifah palsu,
karena di dalam hati ia sudah sangat mendambakan hantaman itu.
"Diam sayangku, Di mana pun saya mau, itu jadi tempat pembuangan saya!"
bentak Fauzan.
JLEBB... PLOK!
Tanpa pemanasan, Fauzan menghujamkan miliknya sedalam mungkin. Mukena
putih Ifah tersingkap-singkap saat Fauzan mulai memompa dengan ritme yang
sangat brutal. Suara hantaman kulit yang basah bergema di ruangan yang
sunyi itu.
"Ahhh! Mas Fauzan! Gede banget... rahim Ifah mau pecah! Mas... ampun!" jerit
Ifah sambil mencengkeram pinggiran sajadah.
"Ampun?
Saya baru mulai, Ifah! Saya bakal habisin kamu 2 hari ini!" Fauzan
menghajar dengan kecepatan yang tidak manusiawi, setiap dorongannya membuat kepala Ifah tertunduk ke lantai, seolah dipaksa sujud berkali-kali di
bawah kejantanan Fauzan.
Di tengah gempuran yang memuakkan itu, ponsel Ifah yang tergeletak di
samping sajadah berdering. Nama "Papa Sayang" muncul di layar. Itu Putra.
Fauzan berhenti sejenak, namun miliknya tetap tertanam jauh di dalam diri
Ifah. Ia menyeringai setan. "Angkat, Ifah. Angkat telepon suamimu yang
malang itu. Biar dia dengar suara istrinya yang lagi 'ibadah' sama laki-laki lain."
Ifah gemetar, tangannya meraih ponsel itu. Fauzan mulai bergerak lagi, pelan
namun sangat dalam, menekan titik-titik paling sensitif Ifah.
"H-halo... Pa..." suara Ifah bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal.
"Halo, Ma? Papa sudah sampai di rest area pertama. Mama nggak apa-apa kan
di rumah sendirian? Kok suara Mama kayak capek gitu?" tanya Putra di
seberang telepon, suaranya terdengar sangat khawatir (yang tentu saja hanya
akting).
Fauzan sengaja melakukan hentakan keras mendadak. PLOK!
"Ahhh! N-nggak apa-apa, Pa..." Ifah berusaha menahan erangannya, wajahnya
merah padam karena menahan nikmat yang luar biasa. "M-mama... baru
selesai sholat subuh... p-perut Mama agak mual... Ahh..."
"Mual? Wah, jangan-jangan Mama masuk angin. Atau... sudah mulai ada 'isi' ya
di sana?" tanya Putra dengan nada penuh arti yang hanya dimengerti Ifah.
"N-nggak... Pa... Ahhh! Mama... Mama cuma... k-kedinginan tadi..." Ifah
memejamkan mata rapat-rapat saat Fauzan melakukan thrusting yang sangat
kasar hingga bunyi PLOK-PLOK terdengar jelas sampai ke mikrofon telepon.
Kedinginan? Tapi Papa kok denger suara aneh ya, Ma? Kayak suara kulit yang
beradu... Plok, plok, plok... Suara apa itu, Ma? Apa ada kucing masuk ke kamar
salat?" Putra tertawa kecil, ia sangat menikmati kepanikan istrinya.
"Ifah menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, mencoba meredam jeritan
saat Fauzan menjambak rambutnya dari balik mukena. "I-itu... itu suara
mukena Mama yang kena lantai, Pa... Mama lagi... lagi lipat sajadah... Ahh! Ssakit, Pa..."
"Sakit? Kenapa sakit, Ma? Apa 'sajadahnya' terlalu keras buat lutut Mama?"
Putra semakin memojokkan Ifah. "Atau... apa Mas Fauzan sudah datang buat
'jagain' Mama? Papa tadi liat motornya masih ada di depan rumah pas Papa
lewat."
Fauzan, yang mendengar namanya disebut, langsung berbisik tepat di telinga
Ifah sambil terus memompa, "Bilang sama suamimu... bilang kalau rahim kamu
lagi saya aduk-aduk sampai hancur, hehe!"
Ifah gemetar hebat dan dia tidak mau terang-terangan membicarakan
perngentotan dengan Fauzan, air matanya meleleh menetes ke sajadah. "Mmas Fauzan... n-nggak ada, Pa... Mas Fauzan belum dateng... Ahhh! P-papa...
jangan tutup dulu... Ifah... Ifah butuh denger suara Papa..."
"Oh, Mama kangen ya? Papa juga kangen nih, apalagi kangen ngentotin
mama," ucap Putra dengan suara yang mulai merendah. "Ma, Papa titip ya...
kalau nanti Mas Fauzan dateng, tolong layani dia seikhlas mungkin. Biarkan dia
ngerasa dia lebih jantan dari Papa. Papa mau pas Papa pulang nanti, rahim
Mama sudah penuh, sudah meluber sama benih dia. Papa mau ngerasain sisa
kejantanan Mas Fauzan di dalem Mama... Mengerti, Ma?"
"I-iya Pa... Ahhh! I-ifah nurut... Ifah bakal... bakal jadi wadah yang baik...
Ahhh!
Mas Fauzan! Eh, m-maksudnya... m-makasih ya Pa..." Ifah hampir saja
keceplosan menyebut nama Fauzan dengan nada mendesah.
"Pinter. Yasudah, lanjutin 'ibadahnya' ya, Ma. Papa tutup dulu. Jangan lupa...
penuhin rahimnya ya!"
Klik.
Begitu telepon mati, Fauzan langsung membalik tubuh Ifah hingga mukenanya
tersingkap ke atas, memperlihatkan wajah Ifah yang sudah berantakan oleh air
mata dan nafsu. "Suamimu bener-bener tolol, Ifah! Dia nggak tahu kalau
barusan dia ngomong sama lonte saya yang lagi banjir peju!"
Fauzan tidak memberikan jeda sedikit pun. Ia langsung mengangkat kedua
kaki Ifah ke bahunya, memposisikan rahim Ifah agar tegak lurus, dan
menghujamkan miliknya sekuat tenaga—sebuah gempuran penghabisan yang
membuat Ifah menjerit histeris hingga suaranya serak, memenuhi ruang salat
itu dengan aroma perzinahan yang paling hina.
Episode 7: Ritual Pasutri Palsu.
Suasana di dalam rumah Putra itu benar-benar telah berubah menjadi kancah
perzinahan yang paling pekat antara Ifah dan tetangganya Fauzan. Udara
terasa panas, lembap, dan beraroma maskulin dari peluh Fauzan yang
bercampur dengan wangi feminin Ifah yang sudah tak berdaya. Di atas
ranjang kayu milik Putra yang kini berderit ritmis seolah meratap, ritual
"pasutri" palsu itu berlangsung dengan intensitas yang menghancurkan logika.
Fauzan merapatkan tubuh raksasanya ke punggung Ifah. Dalam posisi
spooning yang seharusnya intim dan romantis, Fauzan justru memperlakukannya sebagai ajang penaklukan. Tangan kekarnya
mencengkeram erat pinggul Ifah, menariknya ke belakang hingga rahim Ifah
terbuka lebar untuk menyambut hunjaman kejantannya yang hitam, besar, dan
berurat.
JLEBB... PLOK... SQUISH!
Setiap dorongan Fauzan terasa begitu dalam, seolah-olah ingin menembus ulu
hati Ifah. Suara gesekan kulit yang basah oleh cairan gairah bergema nyaring,
beradu dengan suara derit ranjang yang semakin liar.
Fauzan: (Berbisik parau, napasnya yang panas menerpa telinga Ifah yang
merah padam) "Gimana, Istri Sholehah? Kamu ngerasa nggak perbedaannya?
Apa suamimu yang malang itu pernah bikin rahim kamu ngerasa sepadat ini?
Jawab saya, Sayang..."
Ifah: (Mendongakkan kepala, matanya putih mendelik saat merasakan ujung
kejantanan Fauzan menyentuh dasar rahimnya) "Ahhh... Nggghhh... Belum,
Mas... Mas Fauzan... Mas jauh lebih jantan... Ughhh! Mas bikin Ifah ngerasa
bener-bener penuh... seolah-olah rahim Ifah cuma diciptain buat nampung
punya Mas..."
Fauzan tidak puas hanya dengan satu posisi. Ia membalikkan tubuh Ifah
dengan kasar hingga Ifah kini telentang, lalu ia mengangkat kedua kaki Ifah
tinggi-tinggi ke bahunya. Ia melumat bahu Ifah yang penuh bekas gigitan biru
keunguan, seolah ingin menghapus setiap inci aroma Putra yang mungkin
masih tersisa di kulit itu.
Fauzan: "Lihat mata saya, Ifah! Fokus ke saya! Anggap saya suamimu sekarang.
Lupakan si Putra yang lagi duduk manis di rest area itu. Hari ini, kamu cuma
lonte kecil yang lagi saya 'permak' habis-habisan. Kamu puas nggak sama
'suami' barumu ini?"
Ifah: (Meremas seprei hingga robek, tubuhnya gemetar hebat dalam orgasme
yang terus menyiksa) "Puas...
Ahhh! Lebih dari puas, Mas! Ifah rida... Ifah rida
jadi tempat pembuangan Mas... Penuhin lagi, Mas! Jangan kasih jeda...
hancurin rahim Ifah sampai Ifah nggak bisa nyebut nama pria lain lagi selain
Mas Fauzan!"
Intensitasnya meningkat sepuluh kali lipat. Fauzan mulai mengeksplorasi setiap
sudut tubuh Ifah dengan cara yang brutal namun penuh gairah yang
menyesakkan. Ia menjilat tahi lalat di leher Ifah, lalu menggigitnya keras
hingga Ifah menjerit histeris.
Fauzan: "Tahi lalat ini... ini tombol saklar kamu, kan? Setiap kali saya gigit di
sini, rahim kamu langsung berdenyut minta diisi. Liat nih, air ketuban palsu kamu sampai muncrat ke mana-mana, Sayang!"
Ifah: "AAAHHH! Mas! Sakit... tapi Ifah haus... rahim Ifah kerasa kosong kalau
Mas nggak ada di dalem! Terusin, Mas! Gempur terus sampai ke jantung Ifah!
Ifah mau ngerasa benih kental Mas meluap sampai keluar dari mulut Ifah!"
Suara hantaman kulit yang beringas (PLOK-PLOK-PLOK) semakin menjadi-jadi.
Fauzan benar-benar bertindak seperti predator yang sedang menandai
wilayahnya. Ia tidak memberikan belas kasihan; ia ingin setiap inci daging di
dalam diri Ifah mengingat tekstur kejantannya yang kasar dan dominan.
Di tengah gila dan panasnya pergumulan itu, Ifah sudah kehilangan
kewarasannya. Ia tidak lagi peduli pada janji suci pernikahannya. Di matanya
hanya ada sosok Fauzan, sang penguasa yang kini sedang menanamkan
"segel" abadi di dalam rahimnya, sementara Putra hanya menjadi penonton
bayangan dalam fantasi kehinaan yang sempurna ini.
Video Call yang Mengiris Harga Diri
Ditengah ifah dan Fauzan sedang bersenggama panas, Ponsel di atas bantal
bergetar. Fauzan dengan tenang meraihnya, menyandarkannya pada
tumpukan bantal dengan posisi kamera hanya menyorot wajah Ifah yang
berantakan dan bahunya yang penuh tanda merah. Fauzan sendiri
memposisikan dirinya di belakang tubuh Ifah, tersembunyi dari jangkauan
lensa, namun tetap aktif menghujam dari bawah.
Putra: (Muncul di layar dengan senyum yang sulit diartikan) "Halo, Sayang...
Wah, Papa ganggu ya? Mama kok keringetan gitu? Mukanya merah banget,
sampai ke leher-leher, mama lagi Masturbasi ya? "
Ifah: (Napasnya terputus-putus, matanya sayu menatap wajah suaminya di
layar) "A-ahhh... N-nggak apa-apa, Pa... Mama... Mama baru aja... m-masak
tadi... terus n-ngantuk, jadi tiduran..."
Putra: "Tiduran kok napasnya kayak habis lari maraton, Ma? Terus itu... Papa
liat ada tanda ungu di dekat tahi lalat leher Mama. Itu digigit nyamuk besar
ya? Atau... apa Mas Fauzan yang 'gigit'?"
Ifah: (Memejamkan mata saat Fauzan di belakangnya sengaja melakukan
tujahan keras yang membuat tubuhnya terdorong ke depan) "Ughhh! I-itu...
iya Pa... t-tadi ada serangga... k-kayaknya... Ahhh! Mas Fauzan... dia lagi di
depan, Pa... lagi benerin keran air katanya..."
Putra: (Terkekeh pelan) "Pinter banget Mas Fauzan ya, keran air Mama yang
'bocor' dibenerin sampai tuntas. Ma, Papa kangen banget liat titik idaman
Papa di badan Mama. Coba arahin kameranya ke bawah sedikit, Papa mau liat aset Papa yang lagi 'dijagain' sama Mas Fauzan."
Fauzan memberikan kode dengan remasan kuat di pinggul Ifah, menyuruhnya
mengikuti kemauan Putra. Ifah dengan tangan gemetar mengarahkan kamera
ke arah perut bawahnya. Di sana, terlihat pemandangan yang gila: perut Ifah
yang putih mulus tampak bergetar hebat setiap kali ada hantaman dari bawah
(yang pelakunya tidak terlihat di kamera).
Putra: "Gila... kenceng banget ya getarannya, Ma. Kayak ada mesin di dalem
rahim Mama. Papa bisa ngebayangin gimana rasanya di dalem sana sekarang.
Pasti penuh banget, ya? Pasti rasa punya Papa sudah nggak ada bekasnya,
ketutup sama 'banjir' dari Mas Fauzan."
Ifah: "P-pa... s-sakit... tapi Ifah... Ifah ngerasa bener-bener jadi perempuan
sekarang... Ahhh! Mas Fauzan... dia bener-bener jantan, Pa... punya Papa nggak
ada apa-apanya... Ughhh! Maafin Ifah, Pa..."
Putra: "Jangan minta maaf, Ma. Papa justru bangga. Papa mau Mama nikmatin
setiap detik bulan madu kalian.
Fauzan, yang mendengar kan Putra, langsung meningkatkan temponya
menjadi sangat brutal. Suara hantaman kulit (PLOK-PLOK) terdengar sangat
nyaring di speaker ponsel Putra.
Ifah: "PAAAA! MAMA MAU KENCING INI.. AAAAAHHH, DEMI TUHAN!!
KELUARRR! MAU KELUARRR! PAAAA.. JANGAN BERHENTI! PENUHINNN
RAHIMKU SAYAAAANG!!!
Ifah menjerit histeris tepat di depan kamera. Wajahnya menunjukkan ekspresi
antara nikmat yang menyiksa dan kehinaan yang mutlak. Ia mencapai puncak
orgasme yang paling dahsyat seumur hidupnya, sementara Fauzan
menyemburkan seluruh isinya di dalam rahim Ifah hingga cairan putih kental
itu meluap keluar dan terekam jelas oleh kamera Putra.
Putra: "Luar biasa... meluber sampai ke sprei ya, Ma. Hebat Ya Masturbasi
Mama. Ya sudah, Papa tutup dulu ya. Papa mau lanjut jalan lagi. Mama lanjutin
'pelayanannya'. Jangan sampai rahimnya kering ya!"
Klik. Sambungan terputus.
Ifah jatuh tertelungkup, napasnya tersengal-sengal di atas bantal. Fauzan
perlahan muncul dari kegelapan di belakang Ifah, mengelus tahi lalat di leher
Ifah yang sudah basah oleh air mata dan keringat. "Suamimu sudah kasih
lampau hijau secara tidak lansung Sayang. Sekarang, selama 2 hari ini aku mau
kamu bunting anakku Ifah sayang.
Episode 8: Dua Garis menuju Ikatan Suci dan Ternoda
Ifah dan Fauzan
Malam itu, jam dinding di ruang tamu rumah Putra seolah berdetak lebih
kencang, mengikuti irama jantung Ifah yang sedang bergemuruh. Di
tangannya, sebatang plastik putih kecil menunjukkan dua garis merah yang
tegas. Dunianya serasa runtuh sekaligus meledak. Ia terduduk di lantai kamar
mandi yang dingin, menatap hasil test pack itu dengan tatapan kosong.
Ketakutan purba sebagai lulusan pesantren menghantamnya—bayangan siksa
neraka dan dosa zina membayangi pikirannya. Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, ada rasa bangga yang menyimpang: rahimnya telah ditaklukkan
oleh sang pejantan tangguh, Fauzan.
Ia segera meraih ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk Putra.
Ifah: (Mengirim foto test pack) "Pa... lihat ini. Garis dua. Benih Mas Fauzan...
sudah jadi di rahim Mama. Mama hamil, Pa."
Putra: "YA TUHAN! Mama serius?! Hahaha! Hebat banget Mas Fauzan! Papa
bener-bener takjub, Ma! Cuma butuh waktu dinas Papa buat bikin 'isi' di sana.
Anak pejantan tangguh bakal lahir dari rahim kamu. Papa seneng banget, Ma!"
Ifah: "Tapi Pa... Ifah takut. Ifah anak pesantren, Pa. Ini zina. Ifah takut ini bawa
nasib buruk buat keluarga kita. Ifah merasa berdosa setiap kali Mas Fauzan
masuk ke dalam Ifah..."
Putra: "Dosa itu urusan nanti, Ma. Tuhan pasti paham kalau ini buat
kebahagiaan kita. Lagian, Papa rida kok. Papa mau anak itu lahir dengan
genetik Mas Fauzan yang perkasa. Nikmati saja sisa waktumu malam ini, Ma.
Besok Papa pulang, tapi Papa mau kamu tetap 'melayani' dia sampai titik
darah terakhir."
Ifah menutup ponselnya dengan isak tangis yang pecah. Malam itu, ia
melakukan shalat taubat. Ia bersujud sangat lama, memohon ampunan di atas
sajadah yang masih berbau amis sisa pergumulannya dengan Fauzan kemarin
subuh. Ia bertekad: besok pagi, ia akan mengakhiri hubungan terlarang ini
demi janin di rahimnya.
Subuh di pagi hari ifah sendiri di rumah, uara pintu depan terbuka dengan klik
yang sangat familiar. Fauzan masuk, hanya mengenakan sarung dan kaus
dalam yang menonjolkan otot-ototnya. Ia melihat Ifah yang masih
mengenakan mukena putih, duduk di atas sajadah. Fauzan langsung
mendekat, aromanya yang jantan memenuhi indra penciuman Ifah.
"Ayo, Sayang... satu ronde terakhir sebelum suamimu yang letoy itu sampai di
rumah," bisik Fauzan sambil memeluk Ifah dari belakang, tangannya yang
kasar langsung meraba perut Ifah.
Ifah: (Menepis tangan Fauzan, suaranya bergetar)
"Mas... berhenti. Tolong
hargai Ifah kali ini saja. Ifah hamil, Mas. Ini anak Mas... Ifah takut. Ifah nggak
mau anak ini lahir dari rahim yang terus-menerus dikotori dosa. Kita harus
berhenti."
Fauzan: (Seringai tipis muncul di wajahnya, ia justru semakin merapatkan
tubuhnya, hidungnya menghirup aroma leher Ifah) "Takut? Justru karena ada
nyawa saya di dalam sini, rahim kamu jadi lebih istimewa, Ifah. Kamu pikir anak
ini bakal tenang kalau bapak aslinya nggak 'nyapa' dia? Kamu itu bejana saya selamanya."
Ifah: "Nggak, Mas! Ifah nggak kuat nanggung dosanya! Ifah mau tobat!"
Fauzan: (Memutar tubuh Ifah hingga berhadapan, mencengkeram rahangnya
lembut namun mendominasi) "Kamu bukan takut sama Tuhan, Ifah.
Kamu
cuma takut kehilangan saya. Kamu takut kalau saya pergi, nggak ada lagi lakilaki yang bisa bikin kamu menjerit gila sampai lupa daratan. Liat mata kamu...
kamu haus, kan? Kamu mau punya saya yang besar ini tetap 'menjaga' janin di
dalem sana?"
Fauzan mulai menjilat tahi lalat di leher Ifah—titik saklar yang selalu membuat
pertahanan Ifah runtuh. Lidahnya yang hangat dan kasar membuat Ifah
mendesah pasrah, kakinya melemas.
Ifah: "Ughhh... Mas... jahat... kenapa Mas selalu tau kelemahan Ifah? Ifah... Ifah
sebenernya takut kalau Mas ninggalin Ifah setelah tahu Ifah hamil... Ifah mau
Mas ada terus... nemenin Ifah tiap malam..."
Fauzan: (Menatap tajam ke mata Ifah yang mulai sayu karena gairah) "Kalau
gitu, ada solusinya. Kita nikah siri besok pagi. Di depan Tuhan, saya wali sah
anak ini. Secara hukum, kamu tetap istri Putra, tapi secara agama dan batin,
kamu milik saya seutuhnya. Saya nggak akan pernah ninggalin kamu. Saya
bakal terus 'nyiram' rahim kamu supaya anak kita tumbuh jadi pejantan seperti
bapaknya. Kamu mau?"
Mendengar kata "Nikah Siri", beban dosa di pundak Ifah seolah terangkat.
Solusi itu memberinya legitimasi untuk terus menikmati kegilaan bersama
Fauzan.
Ifah: "Nikah siri? Jadi... Ifah bener-bener bakal jadi istri Mas juga? Mas janji
nggak bakal ninggalin Ifah sendirian sama Putra?"
Fauzan: "Janji, Sayang. Rahim kamu sudah saya segel dengan benih saya.
Sekarang, mari kita rayakan persiapan nikah siri kita. Saya mau 'ngasih makan'
anak saya langsung dari sumbernya."
Fauzan langsung menyibakkan mukena Ifah. Di atas sajadah yang sakral
namun penuh dosa itu, mereka bercumbu dengan beringas. Ifah tidak lagi
menolak; ia justru menarik Fauzan lebih dalam, merengek meminta
"hantaman" sang calon suami siri barunya. Ia sadar, ia tidak hanya butuh
Fauzan sebagai pemuas, tapi sebagai pemilik mutlak atas hidup dan janinnya.
Siang harinya, Putra sampai di rumah. Ifah menyambutnya dengan wajah yang
berseri-seri namun penuh keringat sisa pergumulan subuh tadi. Ia
menceritakan segalanya—tentang garis dua, tentang rencana pernikahan siri
dengan Fauzan, dan bagaimana rahimnya kini terasa lebih "tenang" karena sudah memiliki wali yang perkasa.
Putra hanya tertawa bangga, memeluk Ifah dengan erat. "Luar biasa, Ma! Jadi
sekarang Papa akan punya wakil resmi buat jagain Mama kalau Papa lagi sibuk.
Papa rida, sangat rida. Ayo, Papa mau liat bekas-bekas calon 'suami siri' mu
tadi subuh!"
Istri Siri sang Pejantan
Dua hari berikutnya setelah fauzan mempersiapkan pernikahan sirinya dengan
ifah, Pagi itu, suasana di kantor urusan agama non-formal alias penghulu siri
terasa sangat dingin dan sunyi. Fauzan membawa Ifah yang masih
mengenakan gamis rapi, tampak sangat cantik namun matanya menyimpan
sejuta rahasia. Di depan seorang ustaz tua yang merupakan kenalan Fauzan,
mereka mengucapkan ijab kabul secara siri.
Fauzan bertindak seolah-olah ia sedang menyelamatkan kehormatan Ifah,
padahal ia sedang menyegel kepemilikannya atas rahim Ifah.
Setelah prosesi singkat itu selesai, Fauzan membawa Ifah ke dalam mobil. Ia
menggenggam tangan Ifah dengan erat, urat-urat di tangannya yang besar
seolah menunjukkan kekuasaan mutlak.
"Sekarang, kamu resmi jadi istri kedua saya, Ifah," bisik Fauzan dengan suara
berat yang membuat bulu kuduk Ifah meremang. "Istri pertama saya jauh di
pulau seberang, dia cuma sibuk kerja. Tapi kamu... kamu yang ada di sini, yang
mengandung benih saya. Saya bakal lebih sayang dan lebih sering 'mengurus'
kamu dibanding dia."
Ifah tertunduk, wajahnya merah padam. Ada rasa bangga yang aneh saat
disebut sebagai "Istri Kedua" oleh pria sekuat Fauzan
Fauzan: "Tapi ada syaratnya, Ifah. Ingat baik-baik. Mulai detik ini, hanya saya
yang boleh menyentuh rahim ini. Hanya kejantanan saya yang boleh keluar di
dalam. Suamimu yang letoy itu... si Putra... dia dilarang keras masuk.
Bagaimanapun caranya, dia cuma boleh coli di depanmu atau di pelukanmu
untuk merasakan nikmat. Dia nggak boleh mengotori 'rumah' anak saya.
Mengerti?!"
Ifah: (Menelan ludah, nafasnya memburu karena gairah yang terpicu oleh
dominasi Fauzan) "I-iya, Mas... Ifah nurut. Ifah milik Mas Fauzan seutuhnya
sekarang. Ifah bakal jaga rahim ini cuma buat Mas..."
Sore harinya, Putra sampai di rumah dengan wajah yang lelah namun penuh
antisipasi. Ifah menyambutnya di depan pintu, langsung memeluk suaminya
dengan erat.
"Pa... Mama sudah sah secara agama. Tadi pagi... Mas Fauzan bawa Mama ke
penghulu. Mama sekarang istri siri Mas Fauzan," bisik Ifah di telinga Putra.
Mendengar kalimat itu, pertahanan mental Putra runtuh seketika. Ia tidak
marah, ia justru menangis sesenggukan di bahu Ifah. Air matanya jatuh karena
rasa syukur yang menyimpang. Impian hidupnya untuk melihat istrinya dimiliki
sepenuhnya oleh pria yang lebih jantan akhirnya tercapai.
Putra: "Terima kasih, Ma... terima kasih sudah mewujudkan fantasi Papa. Papa
bener-bener bangga punya istri sehebat kamu. Kamu bener-bener jadi milik
sang juara sekarang!"
Dalam pelukan itu, Putra merasakan sensasi panas yang luar biasa menjalar ke
seluruh tubuhnya. Hanya dengan membayangkan istrinya baru saja
bersumpah setia di depan penghulu dengan Fauzan, Putra mengalami
orgasme berat. Tubuhnya bergetar kaku di pelukan Ifah, cairannya meluap di
balik celananya tanpa perlu disentuh. Ia benar-benar kalah telak sebagai pria,
namun menang sebagai pemuja kehinaan istrinya sendiri.
catatan penulis:
Setelah Putra mulai tenang,
Ifah menyampaikan syarat dari "suami siri"-nya.
Ifah: "Tapi ada syarat dari Mas Fauzan, Pa. Mas Fauzan melarang Papa buat
'keluar di dalam' lagi. Mas Fauzan bilang... rahim ini cuma buat dia. Papa cuma
boleh coli kalau mau ngerasain nikmat sama Mama. Papa... setuju kan?"
Putra: (Mata merah karena tangis dan gairah, mengangguk cepat tanpa ragu
sedikit pun) "Setuju, Ma! Papa setuju banget! Papa malah lebih suka begitu.
Papa bakal jadi pelayan kalian berdua. Papa bakal ihlas melepaskan kamu tiap
malam dirumah Mas Fauzan untuk 'ngasih makan' anaknya, dan Papa cukup
puas cuma dengan coli sambil menjilat bekas kalian. Papa rida, Ma... Papa rida
jadi pecundang buat kalian!"
Episode 9: Bulan Madu Gila Ifah dan Fauzan di Puncak, dan Pengakuan
Ifah.
Sore itu, suasana rumah terasa tenang namun mencekam bagi Ifah. Saat ia
sedang merapikan mukenanya, ponselnya bergetar hebat. Nama "Mas
Fauzanku" muncul, membuat jantungnya seketika berdegup kencang hingga
ke kerongkongan.
Fauzan: (Suaranya berat, serak, dan penuh otoritas di seberang telepon) "Halo,
istriku sayang... Sudah siap untuk rahimnya diisi lagi?
Ifah: (Menelan ludah, suaranya bergetar) "A-ahhh... Mas Fauzan... Ifah selalu
siap. Rahim Ifah rasanya haus kalau sehari saja nggak Mas 'isi'..."
Fauzan: "Bagus. Saya sudah sewa Villa privat di Puncak. Lokasinya jauh dari
keramaian, hanya ada kita, kabun dingin, dan ranjang kayu yang akan jadi
saksi binalnya kamu. Kita berangkat besok Sabtu pagi. Saya mau kamu di sana
selama dua malam penuh."
Ifah: "Dua malam, Mas? Tapi Mas Putra bagaimana?"
Fauzan: "Persetan dengan Putra! Bilang saja ada acara pengajian atau reuni
pesantren kamu di Bogor. Saya tidak peduli alasan apa yang kamu pakai.
Syaratnya tetap: Besok kamu masuk ke mobil saya tanpa celana dalam. Pakai
gamis paling tipis. Saya mau sepanjang perjalanan menanjak ke Puncak,
tangan saya sudah bisa 'memanen' hasilnya di sela pahamu. Paham Ifah istri
siri jalang??"
Ifah: (Napasnya memburu, membayangkan dominasi Fauzan) "P-paham, Mas
Fauzan... Ifah turuti semuanya. Ifah bakal jadi istri siri yang patuh dengan kamu
sayang..."
Setelah telepon ditutup, Ifah menghampiri Putra yang sedang duduk santai.
Bukannya merasa bersalah, Ifah justru merasa gairah yang meluap saat harus
mengakui rencana ini pada suaminya sendiri.
Ifah: "Pa... Mas Fauzan baru saja telepon. Dia ajak Mama staycation di Villa
Puncak besok. Dia mau rayain pernikahan siri kita, Pa. Dia suruh Mama bohong
sama Papa, katanya ada acara reuni pesantren."
Putra: (Matanya langsung berkilat gila, napasnya memburu seketika) "Gila...
Villa di Puncak?! Mas Fauzan bener-bener mau 'ngurung' kamu di sana, Ma! Di
tengah kabut dingin, rahim kamu pasti bakal digempur habis-habisan supaya
tetep hangat! Terus, dia minta apa lagi?"
Ifah: "Dia suruh Mama berangkat tanpa celana dalam, Pa. Dia mau 'main'
sepanjang jalan di mobil. Dan di Villa nanti... dia bilang Papa dilarang keras
ganggu. Papa cuma boleh nunggu kiriman video tiap jam saat rahim Mama
lagi dihancurkan beringas sama dia. Papa... rida kan kalau Mama ditinggal dua
malam cuma buat jadi pemuas Mas Fauzan?"
Putra: (Meremas paha Ifah dengan gemetar, wajahnya memerah karena gairah
cuckold yang meluap) "Rida, Ma! Sangat rida! Papa malah sange maksimal
bayangin istri Papa lagi nungging di balkon villa sambil ditonton kabut
Puncak! Papa mau tiap video yang Mama kirim, Mama harus sebut kalau rahim
Mama sudah penuh sama benih Mas Fauzan! Janji, Ma?"
Ifah: "Janji, Pa... Mama bakal penuhin galeri Papa dengan rekaman Mama dan
mas Fauzan senggama di sana. Mama bakal biarkan Mas Fauzan tumpah
berkali-kali sampai janin di perut ini bener-bener disegel sama bapak aslinya."
Putra langsung memeluk Ifah dengan erat, ia mengalami orgasme prematur di
balik celananya hanya dengan mendengar rencana "bulan madu" istrinya
dengan pria lain "Aaargghh Ifaaah Istriku Ssaayaang.. Papa Orgasme
sayaaang.. Aaah.. Nanti kamu bakal di entot mas Fauzaaan!!". Sementara Ifah
tersenyum gila, ia sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk kembali menjadi objek pemujaan sang suami siri di tengah dinginnya kabut
Pagi itu, dengan sisa-sisa aroma wangi sabun mandi yang masih segar, Ifah
mengenakan gamis cokelat mudanya yang paling tipis. Ia memasangkan
kerudung instan dengan sangat rapi, menutupi wajahnya yang tampak lugu
dan sholehah. Di depan Putra, ia mencium punggung tangan suaminya
dengan takzim, sebuah sandiwara "Istri Sholehah" yang justru membuat gairah
suaminya memuncak.
----
Keesokan harinya. "Papa, Mama berangkat dulu ya... Doakan pengajiannya
lancar dan Mama bisa bawa pulang berkah,.." ucap Ifah lembut sambil
tersenyum nakal pada Putra suaminya, padahal di balik gamis itu, ia sama
sekali tidak mengenakan pakaian dalam, membiarkan area kewanitaannya
yang basah bergesekan langsung dengan kain.
Setelah berpamitan, Ifah berjalan menuju depan gang perumahan. Di sana,
SUV hitam milik Fauzan sudah menunggu dengan mesin yang menderu
rendah, seolah-olah seekor predator yang siap menerkam mangsanya. Begitu
Ifah masuk ke dalam mobil, aroma maskulin Fauzan yang pekat langsung
menyergapnya.
Baru saja mobil melaju beberapa kilometer meninggalkan perumahan, tangan
kiri Fauzan yang besar dan urat-uratnya menonjol langsung merayap masuk ke
balik gamis Ifah.
"Sudah siap jadi jalang siri saya selama dua hari, Ifah?" geram Fauzan tanpa
melepaskan pandangan dari jalan raya.
Jari-jari Fauzan yang kasar langsung menyapu lipatan sensitif Ifah yang sudah
banjir. Dengan lihai, ia mengacak-acak pusat kenikmatan Ifah sambil sesekali
memacu mobilnya kencang. Ifah menjerit tertahan, tubuhnya meliuk-liuk di
kursi penumpang. Hantaman jari Fauzan begitu beringas hingga dalam
hitungan menit, Ifah mengalami kontraksi hebat.
CROT... SQUIRT!
Cairan bening membanjiri kursi mobil yang mewah itu. Ifah megap-megap,
mukanya merah padam di balik kerudungnya yang mulai berantakan. "Mas...
Ahhh! Ampun Mas... memek Ifah... kerasa mau copot kalau Mas gituin terus..."
Saat memasuki area pinggiran yang agak sepi menuju Puncak, Fauzan melihat
tiga orang remaja laki-laki kampung yang sedang nongkrong di pinggir jalan
dekat sebuah pangkalan ojek yang sepi. Ide gila melintas di kepalanya. Ia
menepikan mobilnya tepat di depan mereka dan menurunkan kaca jendela.
Ketiga remaja itu mematung, melihat seorang wanita cantik berkerudung duduk di dalam mobil mewah. Fauzan kemudian menarik kerah gamis Ifah
hingga melorot ke pinggang, mengekspos payudara Ifah yang membusung
kencang dengan puting yang menegang keras.
"Hei, Dek! Mau liat yang seger nggak?" teriak Fauzan sambil menyeringai.
Ketiga pemuda itu mendekat dengan mata melotot dan napas memburu.
Mereka tidak percaya melihat pemandangan di depan mata: seorang wanita
berjilbab, namun bugil dari dada ke bawah di dalam mobil.
"Gila, Bang... bening banget! Itu... boleh kita pegang?" tanya salah satu remaja
dengan suara gemetar.
Fauzan: "Pegang aja! Nih, cobain pentil cewek jilbab ini. Sedot yang kenceng,
biar dia tau rasanya lidah anak muda!"
Ifah kaget namun hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkeram
dasbor mobil dengan kuat saat ketiga remaja itu bergantian memasukkan
kepala mereka melalui jendela mobil. Salah satu dari mereka mulai mengemut
puting kanan Ifah dengan buas, sementara yang lain menjilati payudara kirinya
hingga meninggalkan bekas cupang kemerahan yang mencolok.
Ifah: "AAAHHH! Mas Fauzaann... maluuu... Ahhh! Dek... pelan-pelan sedotnya...
Nggghhh!"
Fauzan tertawa puas melihat istri sirinya dilecehkan oleh orang asing di pinggir
jalan. Ia menikmati pemandangan bagaimana puting Ifah ditarik-tarik oleh
lidah-lidah muda itu. Setelah puas melihat Ifah meracau gila, Fauzan
melemparkan uang beberapa lembar ke arah mereka dan menginjak gas,
meninggalkan para remaja itu yang masih berdiri mematung dengan
kejantanan yang menonjol di balik celana mereka.
Mobil kembali melaju menanjak. Ifah terduduk lemas, napasnya masih
memburu dengan bekas air liur para remaja tadi yang membasahi dadanya.
"Gimana rasanya, Sayang? Enak kan jadi tontonan?" bisik Fauzan sambil
kembali meremas paha Ifah. "Itu baru pemanasan. Di Villa nanti, saya bakal
bikin kamu ngerasain yang jauh lebih gila dari sekadar diemut anak kecil."
"Iyaah Mas Fauzan sayang.." Ifah hanya bisa mengangguk pasrah. Ia membelai
bekas cupang di dadanya, menyadari bahwa perjalanan ini baru saja dimulai,
dan rahimnya sudah berdenyut hebat menantikan "hantaman" sang pemilik
sah secara agama di tengah dinginnya kabut Puncak.
----
Udara Puncak yang menusuk tulang tak sedikit pun mendinginkan gairah yang membara di Villa asri itu. Fauzan benar-benar menepati janjinya untuk
menjadikan 48 jam ini sebagai perayaan kepemilikan mutlak atas rahim Ifah.
Sejak menginjakkan kaki, Ifah tak dibiarkan mengenakan benang sehelai pun,
kecuali mukena tipis yang kini sudah tersingkap di pinggangnya.
Malam itu, kabut turun menyelimuti balkon villa yang menghadap ke lembah
gelap. Fauzan memposisikan Ifah nungging di pagar balkon yang dingin,
sementara ia menghantam rahim Ifah dari belakang dengan kekuatan penuh.
Suara hantaman kulit (PLOK-PLOK) beradu dengan deru angin malam.
"Ahhh! Mas Fauzan... dingin... tapi dalem banget! Hancurin Ifah, Mas!" jerit Ifah,
suaranya parau memecah kesunyian malam.
"Dengar itu, Sayang? Saya mau seluruh lembah ini tahu kalau istri siri saya lagi
saya 'siram' habis-habisan!" geram Fauzan. Ia sengaja tidak menutup gorden,
berharap ada pasang mata yang melihat bagaimana ia memperlakukan Ifah
seperti jalang kelas atas.
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik tanaman hias di taman bawah
balkon. Seorang petugas villa bernama Raka—pemuda sekitar 22 tahun yang
gagah, berkaus ketat yang menonjolkan otot lengannya—mematung di sana.
Matanya membelalak melihat pemandangan gila di atasnya: seorang wanita
cantik bermukena yang sedang dihajar beringas oleh pria raksasa.
Fauzan menyadari kehadiran Raka. Bukannya berhenti, ia justru semakin
beringas menghujam Ifah, membuat Ifah menjerit lebih kencang.
"Hei, Anak Muda! Jangan cuma diam di situ!" teriak Fauzan sambil terus
memompa. "Sini, mendekat! Naik ke balkon! Nikmati pemandangan ini dari
dekat!"
Raka yang kagok dan gemetar akhirnya melangkah naik melalui tangga
samping. Saat berdiri hanya dua meter dari mereka, kejantanan Raka sudah
menonjol keras di balik celana kainnya. Ia tak bisa berpaling dari kecantikan
Ifah yang sedang merintih dalam nikmat yang menyiksa.
"Kamu mau sentuh dia? Kamu mau cium istri saya saat saya lagi di dalem?"
tantang Fauzan.
Ifah: "Mas! Jangan... Mas Fauzan, apa-apaan ini?! Ifah nggak mau!"
Fauzan: (Menjambak rambut Ifah agar menatap Raka) "Diam, Ifah! Turuti
permainan ini! Kamu mau jadi wadah yang sempurna, kan? Biarkan anak saya
di dalem sini dapet tontonan gimana ibunya dipuja banyak pria!"
Raka, yang sudah kehilangan akal sehatnya karena nafsu, mendekat
Tangannya yang kasar mulai mengelus wajah Ifah yang basah oleh keringat
dan air mata. "Nyonya... Anda cantik sekali... seperti bidadari yang sedang
disiksa," gumam Raka serak.
Tanpa menunggu lama, Raka melumat bibir Ifah dengan buas. Lidahnya
menjilati leher Ifah, lalu turun menghisap payudara Ifah yang membusung
kencang akibat hormon kehamilan. Ifah yang awalnya menolak, kini justru
mendesah gila. Perpaduan antara hantaman raksasa Fauzan dari bawah dan
hisapan liar Raka dari depan membuatnya mencapai puncak yang tak masuk
akal.
Raka sudah tidak kuat lagi. Ia mengeluarkan miliknya yang masih muda dan
tegang, lalu mulai coli dengan beringas tepat di depan wajah Ifah yang sedang
megap-megap.
CROOTTT... SQUIRT!
Sperma putih kental milik Raka menyembur deras, membasahi wajah, mata,
dan mukena putih Ifah. Ifah terkesiap, napasnya tersengal menatap cairan
asing itu di wajahnya.
"Jilat, Ifah! Bersihkan mukamu! Telan semua pemberian pemuda ini sebagai
tanda kamu adalah bejana yang patuh!" perintah Fauzan tanpa belas kasihan.
Ifah, dengan mata sayu yang penuh nafsu, perlahan menjilat sisa-sisa sperma
Raka di sekitar bibirnya, sementara Fauzan memberikan tujahan terakhir yang
paling dalam ke rahimnya.
Setelah Raka pergi dengan langkah gontai dan wajah penuh kemenangan,
Fauzan mencapai orgasme hebat. Ia menyemburkan seluruh isinya, mengunci
rahim Ifah dengan benihnya yang meluap. Mereka berciuman panas, lidah
mereka bertaut di tengah aroma sperma Raka yang masih tersisa di mulut Ifah.
"Kamu tahu, Ifah? Saya makin sange liat kamu dicabuli pemuda tadi," bisik
Fauzan sambil memeluk Ifah yang lemas. "Rahim kamu itu magnet buat
pejantan. Dan saya... saya bangga jadi pemilik sah yang bisa membagikan
'sampah' kamu ke pria lain."
Ifah hanya bisa tersenyum gila, menyadari bahwa liburan ini benar-benar telah
mengubahnya menjadi bejana tanpa harga diri di bawah kekuasaan suami
sirinya.
----
Suasana di dalam kamar villa yang mewah itu masih pengap oleh aroma
maskulin dan sisa-sisa pergumulan liar di balkon tadi. Ifah bersandar lemas di dada bidang Fauzan, sementara jemari besar Fauzan masih asyik
mempermainkan helai rambut Ifah yang berantakan.
"Mas..." bisik Ifah tiba-tiba, suaranya serak namun terdengar serius.
"Hmm?" Fauzan menyahut pendek, masih mengatur napasnya.
"Sebenarnya... Mas Putra sudah tahu semuanya. Tentang kita, tentang nikah siri
kita, bahkan tentang anak yang aku kandung ini," Ifah menatap mata Fauzan
lekat-lekat. "Dia bukan cuma tahu, Mas... tapi dia rida. Dia justru sangat
bergairah setiap kali tahu aku sedang Mas 'hancurkan'."
Fauzan tertegun sejenak. Matanya menyipit, lalu tawa berat yang penuh
kemenangan meledak dari tenggorokannya. "Jadi si pecundang itu menonton
dari jauh? Luar biasa. Ternyata suamimu jauh lebih gila dari yang saya
bayangkan."
Tanpa membuang waktu, Fauzan meraih ponselnya. "Kalau begitu, jangan
biarkan dia hanya membayangkan. Kita beri dia pertunjukan langsung sebagai
konfirmasi."
Fauzan segera melakukan video call ke nomor Putra. Hanya dalam satu dering,
wajah Putra yang tampak berkeringat dan berantakan muncul di layar.
"Mas Fauzan..." suara Putra bergetar, antara takut dan sangat bergairah.
"Putra, saya dengar dari Ifah kalau kamu sudah tahu semuanya? Kamu benar
rida istri sahmu saya jadikan jalang siri dan saya buat hamil seperti ini?" tanya
Fauzan dengan nada otoritas yang menekan.
Putra menelan ludah, matanya menatap Ifah yang polos di pelukan Fauzan. "Iiya, Mas. Saya rida... sangat rida. Melihat Ifah binal di bawah Mas Fauzan
adalah puncak fantasi saya. Tolong... buat dia semakin gila, Mas!"
Mendengar pengakuan itu, gairah Fauzan meledak ke titik tertinggi. "Bagus!
Kalau begitu, saksikan bagaimana saya mencuci otak dan tubuh istrimu ini!"
Fauzan langsung menyambar bibir Ifah di depan kamera. Mereka bertukar
ludah dengan bising, suara hisapan lidah memenuhi speaker ponsel Putra.
Fauzan sengaja meludah ke dalam mulut Ifah, dan Ifah menyambutnya dengan
rakus, menelan ludah suami sirinya seolah itu adalah madu.
"Liat ini, Putra!" seru Fauzan sambil menarik kepala Ifah ke belakang,
memamerkan leher jenjang Ifah yang kini penuh dengan bekas cupang merah
keunguan. "Dua tahi lalat idamanmu di leher ini... sekarang sudah saya tandai
dengan gigi saya. Ini segel saya!"
Fauzan mulai mencupangi leher Ifah dengan kasar tepat di depan kamera,
sementara tangannya yang lain meremas dan memilin payudara Ifah yang
membusung kencang. "Tahu tidak, Putra? Tadi di balkon, istri sholehahmu ini
saya biarkan disemprot oleh petugas villa muda. Dia menjilat semua
spermanya sampai bersih! Dia sangat menikmatinya!"
Putra di seberang sana meracau gila, tangannya bergerak cepat di balik layar.
"Aaaahhh! Mas Fauzan! Tolong... buat Ifah lebih binal lagi! Saya mohon, buat
dia ketagihan seks gila Mas! Saya rela dia dibuntingi terus-menerus! Tolong
hancurkan harga dirinya sampai dia cuma kenal Mas sebagai tuannya!"
Ifah menjerit sange mendengar permohonan suaminya sendiri. Ia
membusungkan dadanya, menantang Fauzan untuk melakukan hal yang lebih
gila lagi. "Mas Fauzaann... denger kata Mas Putra... penuhi Ifah lagi! Ifah mau
hamil terus sama benih Mas!"
Malam itu, di bawah tatapan mata Putra yang penuh kehinaan, Fauzan kembali
menggempur Ifah dengan intensitas yang sepuluh kali lebih beringas,
bertekad mengubah Ifah menjadi mesin seks yang hanya tunduk pada
perintahnya.
Episode 10: Perut Buncit Ifah, Dominasi Sang
Suami Siri, dan Benih Dokter Kandungan
---------
Sejak kepulangan dari Villa Puncak, dinamika di rumah tangga Putra telah
bergeser menjadi sebuah teater penghinaan yang sistematis. Fauzan tidak lagi
datang sebagai tamu, melainkan sebagai pemilik sah atas raga Ifah. Putra,
sang suami sah di mata hukum, kini hanyalah "pelayan" yang bertugas
membukakan pintu, menyiapkan minuman, dan menonton istrinya digarap
beringas setiap malam.
Sudah enam bulan ritual ini berlangsung tanpa jeda. Tubuh Ifah telah
beradaptasi sepenuhnya dengan gempuran Fauzan. Jika sehari saja Fauzan
absen, Ifah akan tampak gelisah, tangannya sering merayap ke
selangkangannya sendiri yang selalu banjir, merintih menyebut nama sang
suami siri. Ia telah menjadi pecandu syahwat yang sakau akan dominasi.
-------
Malam itu, hujan turun deras di luar, namun suhu di dalam kamar pengantin
Putra justru memanas. Ifah sedang duduk di depan cermin, mengelus perutnya
yang kini membuncit kencang. Usia kandungannya yang memasuki trimester
terakhir membuat bentuk tubuhnya sangat menggairahkan; pinggulnya
melebar, dan payudaranya membengkak hingga urat-urat birunya terlihat jelas
di balik kulit yang tipis.
Pintu kamar terbuka kasar. Fauzan masuk tanpa mengetuk, diikuti Putra yang
berjalan menunduk di belakangnya.
Fauzan: (Melepas sabuk kulitnya dengan suara cetar yang keras) "Buka
gamismu, Ifah. Saya mau lihat seberapa besar 'rumah' anak saya hari ini. Dan
kamu, Putra... berlutut di pojok ranjang. Jangan berkedip, karena malam ini saya mau kamu belajar arti menjadi laki-laki yang sebenarnya dari posisi
pecundangmu."
Ifah segera berdiri, senyum binal terkembang di bibirnya. Ia perlahan
menyingkap gamis cokelat mudanya, memamerkan perut buncitnya yang
kencang dengan pusar yang menonjol seksi. Ia sama sekali tidak memakai
pakaian dalam, membiarkan rambut kemaluannya yang lembap terlihat jelas.
Ifah: "Lihat Mas Fauzan... perut Ifah makin besar. Anak Mas di dalam sini
kayaknya lagi nendang-nendang, dia tahu kalau Bapak aslinya sudah datang
buat 'ngasih makan' rahim ibunya."
Ifah menoleh ke arah Putra dengan tatapan yang sangat merendahkan.
Ifah: "Pa, suami ANJING ku... lihat ini. Perut Mama sudah melar begini karena
benih Mas Fauzan yang perkasa. Kamu selama bertahun-tahun cuma bisa
kasih janji, tapi Mas Fauzan cuma butuh beberapa kali gempuran buat bikin
rahim Mama penuh. Kamu merasa terhina ya, Pa, liat istrimu nungging buat
laki-laki lain setiap malam?"
Putra: (Suaranya bergetar, napasnya memburu saat melihat payudara Ifah
yang membusung) "I-iya, Ma... Papa merasa sangat kecil. Tapi Papa sange
banget liat Mama jadi pelacur siri Mas Fauzan..."
Fauzan tidak banyak bicara lagi. Ia langsung menjambak rambut Ifah,
memaksa wanita itu nungging di tepi ranjang, tepat di depan wajah Putra yang
sedang berlutut. Fauzan mengeluarkan kejantannya yang besar, berurat, dan
gelap—kontras sekali dengan kulit Ifah yang putih bersih.
JLEBBB... SQUISH...!!
Satu sentakan dalam langsung membuat Ifah menjerit histeris. Kepalanya
mendongak, matanya mendelik putih menikmati hantaman yang merobek
kewarasannya.
Fauzan: "Rasakan ini, Istri Jalang! Saya hantam tepat di samping kepala anak
saya! Biar dia tahu siapa tuannya!"
Ifah: "AAAHHH! MAS FAUZAANNN! Dalem bangettt! Puaskan Ifah, Mas! Mas
Putra... liat ini! Liat gimana memek Mama diperkosa sama Mas Fauzan! Kok
enak banget ini kontol mas Fauzan!!Bunyinya kedengeran kan, Pa? PLOK...
PLOK... PLOK! Ini bunyi rahim Mama yang lagi ditandai ulang sama pejantan!"
Fauzan mulai memompa dengan ritme yang lambat namun sangat bertenaga.
Setiap kali ia menghujam, perut buncit
Ifah berguncang hebat, pusarnya yang menonjol seolah-olah ikut menari dalam irama syahwat itu. Fauzan sengaja
mencengkeram payudara Ifah yang bengkak dari belakang, memilin putingnya
yang menghitam hingga Ifah mengerang kesakitan yang nikmat.
Ifah: "Pa... kamu itu laki-laki letoy! Liat Mas Fauzan, dia nggak butuh obatobatan buat bikin Mama mandi air mancur! Kamu cuma bisa kasih ludah di
memek mama, tapi Mas Fauzan kasih benih yang nyata! Kamu harusnya
bersyukur punya istri yang rahimnya diservis total sama ahli medis kayak Mas
Fauzan!"
Putra: (Mulai melakukan masturbasi dengan gemetar) "Iya Ma...
Alhamdulillah... Papa emang letoy... Papa cuma sampah yang beruntung bisa
liat adegan ini... Indah sekali ya Tuhan"
Ritme Fauzan semakin cepat. Ia tidak membiarkan Ifah bernapas. Keringat
membasahi tubuh mereka, menetes ke wajah Putra yang berada di bawahnya.
Ifah mulai mengalami kontraksi hebat; otot-otot rahimnya menjepit milik
Fauzan dengan sangat kencang.
Ifah: "MASSS FAUZANN! MAU KELUARRR! TUANG SEMUANYA KE DALAMMM!
JANGAN SISAKAN SETETES PUNNN! BIAR ANAK KITA BERENANG DI DALAM
SANA!"
Fauzan: "Ughhh... TERIMA INI, IFAH! DAN KAMU PUTRA... SIAPKAN
MULUTMU!"
Dengan raungan yang jantan, Fauzan menyemburkan gelombang benih
panasnya tepat di mulut rahim Ifah yang sedang terbuka lebar. Ifah kejangkejang, mengalami squirt berulang kali yang membasahi sprei dan menyiprat
ke wajah Putra.
Setelah beberapa menit kejantanan Fauzan masih terbenam di dalam, ia
perlahan menariknya keluar. Cairan putih kental bercampur cairan Ifah
meluber keluar dari liang yang sudah bengkak itu, mengalir turun ke arah
paha.
Ifah: (Napasnya tersengal, menatap Putra dengan hina) "Sekarang, Pelayan...
jongkok di bawah memek Mama. Jilat semua sisa Mas Fauzan yang keluar itu.
Jangan sampai ada yang jatuh ke lantai. Habiskan semuanya! Itu vitamin buat
laki-laki pecundang kayak kamu!"
Putra merangkak maju tanpa ragu. Ia menempelkan mulutnya di selangkangan
istrinya, menjilati setiap tetesan sperma Fauzan yang meluber dari rahim Ifah.
Ia melakukan itu dengan rakus, sementara Ifah tertawa gila sambil mengelus
perut buncitnya
Ifah: "Enak, Pa? Rasa laki-laki sejati kan? Makanya, jangan pernah mimpi mau
sentuh Mama lagi. Kamu cuma boleh makan sisa-sisanya!"
Fauzan hanya menyeringai puas, menyalakan rokoknya sambil duduk di kursi
pengantin Putra, menonton bagaimana sang suami sah sedang membersihkan
sisa-sisa persetubuhannya dengan lidah yang patuh. Ritual malam itu ditutup
dengan Ifah yang mengencingi wajah Putra,
"Ini Pa bonus buat kamu, enak nggak rasa air kencingku yang campur sama
sperma mas Fauzan?? " Tanya ifah pada suaminya yang hina.
"GLUP.. GLUP... Enak Ma.. Rasanya asin dan gurih.. Papa suka ma.. Aaaaaah..
Papah crooot mam" Fauzanpun orgasme ditengah ia meminum kencing
istrinya, Ifah.
sebuah segel kehinaan yang sempurna sebelum mereka tidur bertiga dalam
satu kamar yang penuh aroma dosa.
---------
Selanjutnya, ini bonus cerita dimana Ifah istriku memiliki pengalaman mesum
dengan dokter kandungannya. Cerita saya bumbui agar lebih nikmat.
Rahasia di Bilik Periksa: Dokter Rian yang Tampan
Beberapa hari kemudian, tiba waktunya Ifah kontrol kandungan. Putra
mengantarnya ke sebuah RSIA ternama. Takdir seolah sedang bermain; dokter
langganan mereka berhalangan hadir dan digantikan oleh Dokter Rian,
seorang spesialis obgyn muda, atletis, dengan wajah tampan yang sangat
maskulin di balik jas putihnya.
Begitu masuk ke ruang periksa, jantung Ifah berdegup kencang. Aura Dokter
Rian yang dingin namun berwibawa langsung membakar syahwat Ifah yang
memang sedang dalam kondisi "selalu haus". Putra diminta menunggu di luar
bilik periksa yang hanya dibatasi tirai tipis.
Lama Putra menunggu. Awalnya hanya suara mesin USG, namun lamakelamaan, ia mendengar suara desahan halus yang sangat ia kenali.
Suara Ifah (di balik tirai): "Nggghhh... Dokter... kenapa periksanya sampai ke
sana? Ahhh... tangan Dokter hangat banget..."
Suara Dokter Rian: "Sabar, Bu Ifah. Ini pemeriksaan kelenjar susu, payudara
Ibu sangat tegang. Saya perlu memastikannya... tapi memang, puting Ibu
sangat sensitif ya? Sampai menonjol begini..."
Di luar, Putra gemetar. Ia mendengar suara kain yang bergeser, suara decapan
bibir, dan rintihan Ifah yang semakin menjadi-jadi. Setelah hampir satu jam,
tirai terbuka. Ifah keluar dengan wajah merah padam, keringat bercucuran di
dahi, dan kerudungnya sedikit berantakan. Bibirnya nampak bengkak seolah
baru saja dilumat habis-habisan. Dokter Rian keluar di belakangnya dengan
senyum tipis yang penuh rahasia.
Sesampainya di rumah, Putra langsung mengunci pintu kamar. Ia tidak tahan
lagi. Ia mencecar Ifah tentang apa yang terjadi di dalam bilik itu.
Ifah: (Sambil membuka gamisnya, memamerkan perut buncit dan bekas
merah di dadanya) "Pa... tadi itu gila banget. Awalnya Dokter Rian cuma
periksa perut Mama. Tapi Mama nggak tahan liat wajah gantengnya. Mama
sengaja buka kancing lebih lebar dan bilang kalau payudara Mama sakit
banget."
Putra: "Terus... dia beneran berani megang?!"
Ifah: "Bukan cuma megang, Pa! Dia mulai mijit payudara Mama sambil bisikin
kalau Mama itu pasien paling cantik yang pernah dia temui. Dia bilang, 'Ibu
Ifah, payudara Ibu ini butuh hisapan profesional supaya nggak kram'. Terus dia
langsung kenyot pentil Mama, Pa! Dia emut kenceng banget sampai Mama
jerit!"
Ifah bercerita dengan mata yang berkilat-kilat, menceritakan bagaimana ia
akhirnya meminta Dokter Rian mengeluarkan kejantanannya.
Ifah: "Mama emut kontol dokternya di atas kursi periksa itu, Pa! Rasanya beda
banget sama Mas Fauzan. Lebih muda, lebih kencang! Karena asistennya
nggak ada, dia langsung buka paha Mama lebar-lebar. Dia hantam Mama
tepat di bawah lampu periksa itu! Dia bilang dia ketagihan sama memek
Mama yang lagi hamil ini. Dia sampai crot berkali-kali di dalam rahim Mama,
numpuk di atas benih Mas Fauzan!"
Putra mendengarkan cerita itu dengan napas sesak. Ia merasa panas dingin.
Istrinya benar-benar telah menjadi lonte yang tidak pilih-pilih; mulai dari suami
siri, petugas villa, remaja jalanan, hingga kini seorang dokter spesialis yang
terhormat.
Putra: "I-istriku... kamu bener-bener lonte paling hebat... Dokter pun kamu
makan!"
Ifah: "Dokter Rian kasih nomor pribadinya, Pa. Dia mau 'periksa' Mama lagi di
hotel minggu depan. Sekarang... Papa jilatin sisa sperma Dokter Rian di perut
Mama ini. Cepetan! Papa harus tahu rasa sperma dokter ganteng itu!
Putra langsung berlutut, menjilati tubuh Ifah yang masih berbau aroma medis
bercampur syahwat dokter. Ia melakukan itu sambil melakukan masturbasi
dengan beringas, hingga akhirnya ia menyemburkan isinya ke kakinya sendiri,
hancur total dalam kehinaan yang ia puja sendiri.
Episode 11: Menjelajahi Kembali Tubuh Ifah Istriku
Malam semakin larut, namun udara di kamar pengantin itu terasa makin pekat
oleh sisa-sisa pengkhianatan yang baru saja terjadi. Di bawah temaram lampu
tidur, Ifah berbaring telentang dengan kaki yang masih sedikit terbuka,
membiarkan perut buncitnya yang kencang menjadi pusat perhatian. Putra
berada di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Ifah, jemarinya gemetar
mengusap pusar Ifah yang menonjol keluar karena tekanan janin di dalamnya.
Ifah: (Menghela napas panjang, suaranya serak dan sangat puas) "Pa... kamu
denger nggak tadi di RS Pas Dokter Rian ngisap pentil Mama sampai bunyi
cap-cup gitu? Rasanya gila banget. Dada Mama sampai sekarang masih cenat cenut, kayak masih kerasa lidahnya yang muda itu..."
Putra: (Mengecup bahu Ifah yang penuh bekas gigitan) "Mama bener-bener
luar biasa. Papa hampir crot di celana pas denger Mama mendesah manggil
nama 'Mas Rian' di balik tirai itu. Papa nggak nyangka, istri sholehah Papa ini
ternyata punya memek yang bisa bikin dokter spesialis sampai khilaf gitu."
Ifah: (Tertawa kecil, tawanya terdengar sangat binal) "Habisnya Mas Rian
ganteng banget, Pa. Putih, wangi, kontolnya pun bersih banget. Tapi tetep ya...
biarpun Dokter Rian hebat, nggak ada yang bisa ngalahin kasarnya Mas
Fauzan. Mas Fauzan itu kalau ngentot Mama nggak pakai aturan, Pa. Dia
hantam rahim Mama kayak mau nembus sampai ke jantung. Kamu nggak
cemburu kan kalau Mama bilang gitu?"
Putra: "Cemburu? Enggak, Ma. Papa justru makin sange. Papa malah rida kalau
rahim Mama nggak pernah kosong. Papa pengen tiap tahun Mama hamil lagi,
hamil lagi... dan semuanya harus benih Mas Fauzan. Biar rumah ini penuh sama
anak-anak hasil 'jajahan' dia. Papa rela kok jadi pengasuh mereka, sementara
Mama asyik dientot bapak aslinya di kamar sebelah."
Ifah: "Pinter suamiku...
Nah, dengerin Mama ya, Pa. Mama punya rencana gila.
Kalau anak cowok di perut Mama ini lahir nanti, Mama mau dia tumbuh jadi
pejantan kayak Mas Fauzan. Mama bakal didik dia supaya nggak malu liat
Ibunya nungging. Malah, Mama mau nanti pas dia sudah besar, dia ikut
'nikmatin' rahim Ibunya sendiri bareng Mas Fauzan. Kita bakal jadi satu
keluarga yang terikat dalam satu lubang yang sama. Kamu setuju kan, Pa?"
Putra: (Matanya berkilat gila, napasnya memburu) "Setuju banget, Ma! Itu
fantasi Papa yang paling sakit! Papa mau liat anak kandung Mama sendiri ikut
'ngoyak' rahim Mama sampai Mama squirt berkali-kali! Papa bakal videoin
semuanya buat koleksi kita!"
Putra sudah tidak sanggup lagi menahan kejantannya yang sejak tadi
menegang hebat. Setelah berbulan-bulan hanya boleh menjadi penonton
setia, malam ini Ifah memberikan tatapan "hijau" yang sudah sangat ia
rindukan.
Ifah: "Sini, Sayang... mumpung memek Mama masih anget bekas Dokter Rian
dan masih longgar banget bekas gempuran Mas Fauzan tadi pagi. Sini, coba
kamu masukin... rasain seberapa 'rusak' rahim istri kamu ini gara-gara dientot
laki-laki perkasa tiap hari."
Putra segera naik ke atas tubuh Ifah. Saat ia perlahan mendorong miliknya
masuk, ia tersentak kaget. Matanya membelalak lebar, ia merasa miliknya
seperti tenggelam dalam ruang yang sangat luas.
Putra: "Ya Tuhan, Maaamm! Kok... kok bisa se-longgar ini?! Memek Mama
bener-bener kayak gua! Papa hampir nggak ngerasa jepitan Mama lagi! Gila...
segede apa kontol Mas Fauzan itu sampai bisa ngerusak lubang Mama segini
parahnya?!"
Ifah: (Mendesis binal, tangannya menjambak rambut Putra agar wajah mereka
berdekatan) "Ahhh! Kan Mama sudah bilang, Pa! Mas Fauzan itu kalau ngentot
Mama brutal banget! Dia sengaja ngebuka paksa lubang Mama supaya kontol
sekecil punya kamu ini nggak berasa lagi! Ayo, genjot terus! Biarpun punya
kamu kecil, coba kamu udek-udek rahim Mama yang sudah penuh sperma
Dokter Rian itu!"
Putra mulai memompa dengan beringas. Ia menatap perut buncit Ifah yang
berguncang hebat. Pemandangan pusar yang menonjol dan perut kencang
yang berisi bayi Fauzan itu membuatnya kehilangan akal sehat.
Putra: "Iya, Maa! Papa sange banget! Papa berasa lagi ngaduk-ngaduk kolam
sperma orang lain di dalem sini! Aduh, Ma... memek Mama panas banget,
kayak mesin yang habis dipake kerja rodi!"
Ifah: "AAAHHH! Pelan-pelan dong, Pa! Inget ya, genjotan kamu itu letoy
banget dibanding Mas Fauzan! Mas Fauzan kalau nembak itu sampai rahim
Mama kerasa mau copot! Kamu cuma kayak mainan kecil buat Mama
sekarang! Tapi nggak apa-apa... terusin aja, Papa kan pelayan setia Mama...
Ahhh! Mas Fauzaannn... hancurin Ifah lagi Mas!!!"
Ifah terus meracau, menyebut nama Fauzan berkali-kali saat Putra sedang
berada di dalam tubuhnya. Bukannya marah, Putra justru semakin terangsang
dihina seperti itu. Ia membayangkan dirinya hanyalah pembersih sisa-sisa
kejantanan Fauzan.
Dengan raungan yang penuh kehinaan, Putra akhirnya mencapai puncaknya. Ia
menarik keluar miliknya dan menyemburkan spermanya dengan deras tepat di
atas perut buncit Ifah, menyirami kulit putih yang sedang mengandung anak
pria lain itu.
Putra: "AAAHHH! TERIMA INI DARI SUAMI LEMAH MU, MAAA! MAAF PAPA
CUMA BISA KASIH SEDIKITTT!"
Setelah semuanya selesai, Putra ambruk di samping Ifah. Ia memeluk istrinya
dengan sangat erat, menciumi aroma keringat dan syahwat yang masih
melekat di tubuh "lonte siri" kesayangannya itu dan menjilati leher jenjang ifah
yang dihiasi tahi lalat kecil yang menggoda.
Malam itu, Putra tidur dengan sangat nyenyak di pelukan Ifah, merasa sangat puas telah menjadi bagian terkecil dari drama kehidupan ifah sang istri binal
yang saat i
Episode 13: Ifah dan Hubungan Incest
Terlarang dengan Om yang Gagah
Sore itu, sebuah mobil dinas berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di
depan rumah Putra dan Ifah. Dari dalam mobil, turunlah sesosok pria dengan
perawakan tegap dan berwibawa. Ia mengenakan kemeja batik sutra yang pas
di badannya, menonjolkan bahunya yang lebar. Dialah Om Azwar, paman
kandung Ifah yang kini menjabat sebagai kepala bagian di sebuah instansi
pemerintah di luar daerah.
Putra dan Ifah sudah menunggu di teras. Bagi Putra, kedatangan paman
istrinya yang seorang pejabat adalah kehormatan besar. Namun bagi Ifah,
kedatangan Om Azwar membangkitkan getaran lama yang seharusnya ia
kubur. Sejak remaja, Ifah selalu mengagumi kegagahan pamannya—pria
berkulit sawo matang dengan tatapan mata tajam yang selalu membuat Ifah
salah tingkah.
Setelah bersalaman dan berbasa-basi, mereka duduk di ruang tamu. Ifah
membawakan minuman dengan gerakan yang sedikit canggung. Perut
buncitnya yang kini memasuki bulan ketujuh nampak jelas di balik daster longgarnya, membuat Om Azwar tak henti-hentinya menatap keponakannya
itu.
Om Azwar: "Wah, tidak terasa ya Putra. Ifah sudah mau jadi ibu. Perutnya
sudah besar sekali, kelihatannya sehat dan kencang."
Putra: "Iya, Om. Alhamdulillah. Ifah memang sedang subur-suburnya. Tapi
kadang dia manja sekali kalau sedang hamil begini."
Ifah hanya tersenyum malu. Namun, saat ia membungkuk untuk meletakkan
cangkir teh, kerah dasternya sedikit turun, memperlihatkan leher jenjangnya.
Di sana, tepat di atas tahi lalat kecilnya, ada sebuah bercak merah keunguan
yang cukup besar—bekas gigitan beringas Fauzan malam sebelumnya.
Mata tajam Om Azwar yang terbiasa meneliti berkas kantor langsung
menangkap bercak itu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang
mengandung arti mendalam.
Om Azwar: (Sambil bercanda namun menatap lurus ke mata Ifah) "Loh, Ifah...
itu leher kenapa semerah itu? Apa Putra suka mencupang leher istrinya sampai
sehebat itu sekarang? Hati-hati, nanti ketahuan orang luar dikira habis 'main
kasar'."
Mendengar itu, wajah Ifah langsung memerah seperti kepiting rebus. Ia refleks
menutupi lehernya dengan tangan. Putra hanya tertawa hambar, mencoba
menutupi rasa bangga sekaligus malunya karena tahu itu bukan buatannya.
Ifah: "Ah... ini... kena gigit serangga mungkin, Om. Ifah ke dapur sebentar ya,
mau ambil cemilan."
Saat Ifah di dapur, ponselnya yang tertinggal di meja makan bergetar. Sebuah
notifikasi WhatsApp muncul. Putra bersiap untuk kembali ke kantor karena ada
lembur bersama tim kerjanya, meninggalkan Om Azwar sendirian di ruang
tamu.
Karena penasaran dengan perubahan sikap Ifah yang sangat binal sekarang,
Azwar melirik ponsel itu. Nama pengirimnya: Mas Fauzan.
Pesan WA Fauzan:
Jantung Azwar berdegup kencang. Sebagai pria yang selama ini hidup dalam
protokol yang kaku, membaca pesan seberingas itu dari pria lain untuk keponakannya membuat gairah purbanya bangkit. Ia mengambil ponsel itu,
membuka galeri yang ternyata penuh dengan foto-foto "panas" Ifah dan video
dokumentasi kegilaan mereka. Azwar terkesiap; keponakannya yang dulu suci
kini telah menjadi wanita simpanan yang sangat nakal.
Tak tahan lagi membayangkan keseksian Ifah, Azwar melangkah menuju dapur.
Di sana, Ifah sedang membelakanginya, asyik menata kue di atas piring.
Pinggulnya yang melebar karena hamil nampak sangat menggoda.
Tanpa suara, Azwar mendekat dan langsung melingkarkan lengannya yang
kekar ke perut buncit Ifah, menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada
badannya yang hangat.
Om Azwar: (Berbisik parau di telinga Ifah) "Om sudah baca semuanya, Ifah.
Jadi ini rahasiamu? Kamu lebih suka dihajar pria kasar seperti Fauzan daripada
dilayani suami sendiri? Om tidak menyangka, keponakan kecil Om sudah jadi
'bejana' sehebat ini..."
Ifah: "Om... nggghhh... jangan Om, nanti Mas Putra liat..."
Om Azwar: "Putra sedang sibuk. Sekarang katakan... apa pamanmu yang
gagah ini masih punya tempat di rahimmu yang penuh benih orang lain itu?"
Azwar langsung membenamkan wajahnya di leher Ifah, menjilat dan
menghisap kembali bekas cupang Fauzan dengan cara yang sangat dalam dan
intim. Ifah lemas, kakinya gemetar. Pria impiannya sejak kecil kini sedang
memintanya.
Malam itu, di saat Putra sedang sibuk dengan dunianya, Om Azwar mulai
menuntaskan rasa penasaran yang selama ini ia pendam, membawa Ifah ke
dalam pusaran nafsu yang jauh lebih intim dan berbahaya karena melibatkan
darah daging mereka sendiri.
-------------
Di dapur yang remang-remang itu, suasana berubah menjadi sangat intim dan
menyesakkan. Om Azwar tidak langsung menghajar Ifah secara brutal; ia
menggunakan wibawanya untuk menginterogasi keponakannya sembari
tangan kekarnya mulai menjelajahi tiap lekuk tubuh Ifah yang sedang
mengandung.
Om Azwar membalikkan tubuh Ifah, mendudukannya di atas meja dapur. Ia
membuka kancing kemeja batiknya, memperlihatkan dada bidangnya yang
berambut tipis, lalu menatap tajam ke mata Ifah yang sudah sayu oleh nafsu.
Om Azwar: "Jujur sama Om, Ifah. Sejak kapan kamu jadi 'peliharaan' Fauzan?
Di chat tadi dia bilang kalian sudah nikah siri. Sejauh mana dia sudah merusak
tubuhmu?"
Ifah: (Napasnya tersengal, kedua tangannya mencengkeram bahu kekar
Azwar) "Nggghhh... sudah enam bulan, Om. Sejak Mas Putra sering lembur.
Mas Fauzan... dia yang pertama kali nemu sisi nakal Ifah. Dia nikahin Ifah
secara siri biar dia bisa bebas 'ngisi' rahim Ifah kapan pun dia mau..."
Om Azwar mendengus, tangannya merayap masuk ke dalam daster Ifah,
meremas payudaranya yang bengkak dan keras.
Om Azwar: "Jadi bayi di perutmu ini... benar benih dia? Benih pria yang
panggil kamu 'lonte' di chat itu?"
Ifah: "Iya, Om... Ahhh! Mas Fauzan bilang, rahim Ifah terlalu istimewa buat pria
lemah kayak Mas Putra. Dia mau Ifah hamil terus... dia pengen liat perut Ifah
makin ganal (besar) tiap kali dia nujah (menghujam) dari belakang..."
Mendengar pengakuan itu, kejantanan Om Azwar menegang hebat. Ia tidak
tahan lagi. Ia menyingkap daster Ifah hingga ke dada, memperlihatkan perut
buncit yang sangat seksi. Dengan satu sentakan pasti, ia memasukkan miliknya
ke dalam rahim Ifah yang sudah sangat basah.
JLEBBB...!!
Ifah: "AAAAAAAAHHHH! OM AZWARRRR! AGHHH... Masuknya mantap
banget! Beda sama Fauzan yang kasar... punya Om berasa berwibawa tapi
sangat besar!"
Om Azwar: (Mulai memompa dengan ritme yang dalam dan stabil) "Tentu saja
beda. Om mau kamu ngerasain gimana rasanya 'dikoyak' sama pamanmu
sendiri. Bilang sama Om... apa si Fauzan itu sering main lewat lubang belakang
juga?"
Ifah: (Kepalanya terkulai ke belakang, matanya memutih) "Iya, Om! Ahhh! Mas
Fauzan... dia suka banget liat Ifah nangis pas dia buka paksa lubang anus Ifah.
Dia bilang... itu hadiah buat dia karena sudah kasih benih ke perut Ifah. Ahhh!
Terus Om... hantam terus rahim Ifah!"
Om Azwar semakin beringas. Ia mengangkat kaki Ifah ke bahunya, membuat
penetrasinya semakin dalam hingga menyentuh dasar rahim yang sedang
melindungi janin Fauzan.
Om Azwar: "Jadi kamu suka ya, jadi rebutan laki laki? Suamimu yang bodoh
itu nonton, si Fauzan itu nujah, dan sekarang pamanmu sendiri yang
memenuhi rahimmu. Kamu benar-benar bejana yang rakus, Ifah!"
Ifah: "NGGGHHHH... iya Om! Ifah rida! Ifah mau benih Om Azwar nyampur
sama benih Mas Fauzan di dalem sini! Biar anak ini tau kalau Ibunya adalah
milik pria-pria hebat di keluarga ini! Ahhh! Om... cepat Om... penuhi Ifah!"
Om Azwar: "Om akan kasih kamu lebih dari yang Fauzan kasih. Om akan buat
kamu ketagihan sama kontol pamanmu ini. Tiap kali Om kunjungan dinas ke
sini, Om mau rahim ini sudah siap Om garap!"
Dengan satu raungan rendah yang jantan, Om Azwar mempercepat
gerakannya. Ia memegang leher Ifah, mencium bibirnya dengan rakus sambil
menyemburkan spermanya yang kental dan panas ke dalam rahim Ifah.
Ifah: "AAAAAAAAAAHHHHHH! OM AZWARRRRRR! PENUH BANGETTTT!
AHHAHHH!"
Ifah kejang-kejang di atas meja dapur, merasakan rahimnya berdenyut
menerima limpahan benih dari pria yang ia puja sejak kecil. Azwar tidak
langsung mencabutnya, ia membiarkan miliknya tetap di dalam, mengunci
rahim Ifah.
Om Azwar: (Sambil mengusap tahi lalat di leher Ifah yang penuh keringat)
"Mulai malam ini, kamu bukan cuma milik Fauzan. Kamu adalah simpanan
rahasia Om. Dan Putra... biarkan si bodoh itu tetap jadi pembersih sisa-sisa
kita."
Ifah hanya bisa mendesah pasrah, merasa sangat nista namun sekaligus
berada di puncak kebahagiaan yang paling gelap bersama pamannya sendiri.
Di luar, suara mobil Putra mulai terdengar memasuki garasi, menambah
sensasi ketakutan yang justru membuat rahim Ifah semakin berdenyut nikmat.
------------------
Suara deru mesin mobil Putra di garasi terdengar seperti detak jantung yang
memacu adrenalin di dapur itu. Namun, bukannya ketakutan, Om Azwar
justru semakin menekan tubuh Ifah ke meja dapur, membiarkan miliknya yang
masih berdenyut di dalam rahim Ifah tetap terkunci di sana.
Om Azwar mencengkeram rahang Ifah, memaksanya menatap mata tajam
sang paman yang penuh dengan otoritas.
Om Azwar: "Dengar, Ifah... Om mau tahu satu hal lagi sebelum suamimu
masuk. Di video tadi, Om lihat kamu nungging sambil megang foto
pernikahan kalian pas Fauzan menghantam lubang belakangmu. Apa itu ide
kamu, atau paksaan dia?"
Ifah: (Mendesah parau, keringat bercucuran di pelipisnya) "Nggghhh... itu... itu
ide Mas Fauzan, Om. Dia bilang, dia mau Mas Putra tahu kalau dia cuma
'penonton' yang sah secara hukum, tapi Mas Fauzan-lah yang punya hak pakai.
Tapi sekarang... ahhh... Om Azwar malah lebih dalam lagi masuknya..."
Om Azwar: "Tentu saja. Om ini pejabat, Ifah. Om tahu cara mengambil alih
aset yang berharga. Kalau Fauzan cuma mau merusak, Om mau memiliki. Om
mau rahim buncitmu ini jadi saksi kalau pamanmu punya kuasa lebih besar
dari tetanggamu itu."
Sambil terus melakukan penetrasi pelan namun menghujam dalam, Azwar
berbisik menuntut jawaban yang lebih detail.
Om Azwar: "Jadi si Fauzan itu sudah kasih kamu mahar apa sampai kamu mau
nikah siri di belakang Putra? Apa dia kasih kamu anak ini supaya kamu nggak
bisa lepas dari dia?"
Ifah: "Ahhh! Mas Fauzan... dia kasih Ifah rasa 'dijajah', Om! Sesuatu yang
nggak pernah Putra kasih. Dia janji bakal biayain semua kebutuhan anak ini,
asalkan Ifah rida jadi tempat dia buang sperma kapan pun dia mau... Nggghhh,
Om! Masuk lagi! Lebih kencang!"
Om Azwar: (Mengejan, otot-otot lengannya menegang hebat) "Jadi kamu
cuma dihargai sebagai tempat pembuangan? Kasihan sekali keponakan Om...
Sini, biar Om tunjukkan gimana pamanmu ini menghargai 'bejana' miliknya
sendiri!"
Suara langkah kaki Putra terdengar di ruang tamu. "Ma? Papa pulang! Kok
gelap di depan?" teriak Putra dari kejauhan.
Bukannya berhenti, Om Azwar malah menjambak rambut Ifah agar wanita itu
tidak berteriak, lalu membalikkan tubuh Ifah hingga posisi nungging di tepi
meja dapur. Ia menghantam Ifah dari belakang dengan kekuatan penuh,
membuat perut buncit Ifah berguncang hebat dan menabrak pinggiran meja.
PLOK... PLOK... PLOK...!
Ifah: (Membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, matanya membelalak
nikmat) "Mmmmphhh...! Ommm... sakiittt tapi nyamannn... ahhh! Mas Putra
sudah di depan, Om! Nggghhh!"
Om Azwar: "Biar dia dengar, Ifah! Biar dia tahu kalau istrinya sedang 'dididik'
oleh pamannya sendiri! Om mau benih Om berenang di tempat yang sama
dengan benih Fauzan, tepat sebelum Putra masuk ke kamar nanti!"
angkal rahim Ifah, menyemburkan seluruh isinya dengan sangat deras dan
panas.
Om Azwar: "NAH! TERIMA INI! Benih keluarga yang lebih kuat dari benih
tetanggamu itu! Sekarang kamu penuh dengan cairan Om, Ifah!"
Tepat saat pintu terbuka, Om Azwar dengan cepat merapikan kemeja batiknya
yang masih terbuka setengah, sementara Ifah dengan gerakan kilat
menurunkan dasternya yang basah dan kusut. Putra masuk dan terpaku
melihat pemandangan di depannya.
Putra: "Loh... Om? Mama? Kok gelap-gelapan di dapur?"
Ifah berdiri dengan kaki gemetar, ia bisa merasakan sperma Om Azwar yang
meluap keluar dari rahimnya, merembes di sela pahanya hingga membasahi
lantai dapur yang gelap.
Ifah: (Suaranya bergetar, wajahnya merah padam) "Ini... tadi lampu dapur mati,
Pa. Om Azwar... nggghhh... Om Azwar tersenyum sangat berwibawa, ia menepuk bahu Putra dengan
tangan yang tadi baru saja meremas payudara Ifah.
Om Azwar: "Iya Putra. Istrimu ini memang butuh banyak bantuan. Om baru
saja kasih dia 'pengarahan' sedikit supaya dia nggak gampang capek pas hamil
besar begini. Kamu beruntung punya bini sehebat Ifah."
Putra yang bodoh hanya tersenyum bangga, tidak tahu bahwa di dalam rahim
istrinya, benih sang paman baru saja didepositokan di atas lapisan sperma
Fauzan yang belum kering. Malam itu, di bawah atap yang sama, Ifah merasa
menjadi wanita paling nista sekaligus paling berkuasa karena telah berhasil
mengumpulkan benih dari pria-pria paling dominan dalam hidupnya.
Malam itu, setelah Om Azwar masuk ke kamar tamu untuk beristirahat
dengan senyum penuh kemenangan, Putra dan Ifah masuk ke kamar utama.
Suasana terasa sangat berat. Ifah berjalan dengan sangat payah, daster
sutranya menempel di paha karena basah oleh cairan yang terus merembes
keluar.
Putra, yang sejak di dapur tadi sudah mencium aroma amis yang sangat
menyengat dan melihat gelagat aneh istrinya, langsung mengunci pintu
kamar. Ia membalikkan tubuh Ifah, menatap mata istrinya yang nampak sayu
dan kelelahan namun penuh gairah yang tersisa.
Putra: "Ma... jujur sama Papa. Tadi di dapur... Om Azwar ngapain Mama? Papa
liat kaki Mama gemetar, dan bau di dapur tadi... itu bukan bau parfum Om
Azwar yang biasanya."
Ifah terdiam sejenak, lalu ia perlahan menyingkap dasternya di depan Putra. Ia
memperlihatkan paha putihnya yang kini berlumuran cairan kental yang mulai
mengering—jejak penaklukan sang paman.
Ifah: (Suaranya bergetar, setengah berbisik) "Pa... Om Azwar sudah tahu
semuanya. Dia baca chat Mas Fauzan di HP Mama tadi. Dia tahu kalau Mama
sudah nikah siri dan rahim Mama ini isinya benih Mas Fauzan."
Putra: (Membelalak, jantungnya berdegup kencang) "Terus? Dia marah? Dia
mau laporin kita ke keluarga besar?"
Ifah: "Enggak, Pa... Justru lebih gila dari itu. Om Azwar... dia bilang dia nggak
terima kalau aset keluarga kayak Mama 'dirusak' orang luar tanpa dia ikut
ngerasain. Tadi di dapur... pas Papa baru masuk garasi... Om Azwar ngehajar
Mama di atas meja, Pa. Dia masuk dalem banget... lebih dalem dari Mas
Fauzan."
Putra terduduk di tepi ranjang, meremas miliknya sendiri yang mulai
menegang hebat mendengar pengakuan istrinya. Rasa cemburu dan gairah
cuckold-nya berperang hebat.
Ifah: "Dia interogasi Mama sambil terus nujah, Pa. Dia tanya gimana rasanya
dianul sama Mas Fauzan. Dia mau tahu seberapa 'rusak' Mama di tangan
tetangga kita itu. Pas Mama bilang kalau Mas Fauzan sering panggil Mama
'lonte', Om Azwar malah makin beringas. Dia bilang dia mau kasih 'benih
pejabat' supaya anak di dalem perut Mama ini tahu siapa tuan yang
sebenarnya di keluarga ini."
Putra: "Ya Tuhan, Ma... Jadi pas Papa masuk dapur tadi, Om Azwar baru aja..."
Ifah: "Iya, Pa. Pas Papa muter kunci pintu, Om Azwar lagi tumpahin semuanya
di dalem rahim Mama. Mama harus nahan teriak supaya Papa nggak denger.
Om Azwar sengaja, Pa... dia mau Papa tahu posisinya sebagai penonton,
sementara dia dan Mas Fauzan yang berkuasa atas tubuh Mama."
Ifah mendekati Putra, ia menuntun tangan suaminya untuk meraba perut
buncitnya yang masih terasa hangat dari dalam.
Ifah: "Sekarang, di dalem sini... benih Om Azwar lagi berenang bareng sisa-sisa
benih Mas Fauzan semalam. Om Azwar pesen... dia mau Papa yang bersihin
semuanya. Dia bilang, itu tugas suami lemah kayak Papa: menjaga sisa-sisa
kejantanan pria yang lebih hebat."
Putra, dengan napas tersengal, mulai berlutut di bawah kaki istrinya. Ia
membuka lebar paha Ifah, melihat lubang rahim istrinya yang masih
membengkak dan memerah, meluapkan campuran cairan dari dua pria
dominan yang berbeda latar belakang.
Putra: "Iya, Ma... Papa rida. Papa bangga banget... Istri Papa ternyata bukan
cuma jadi rebutan tetangga, tapi juga jadi pemuas nafsu paman sendiri yang
seorang pejabat. Papa bakal bersihin semuanya, Ma... Papa bakal jilat sampai
habis sisa-sisa Om Azwar..."
Ifah: (Menjambak rambut Putra, menatapnya dengan pandangan paling
rendah) "Pinter, Suamiku... Jilat yang bersih ya. Rasain gimana rasanya benih
keluarga sendiri nyampur sama benih orang luar di lidah kamu. Habis ini,
Mama mau tidur... besok pagi, Om Azwar bilang dia mau 'sarapan' lagi
sebelum dia berangkat dinas. Dan kamu... harus siapin semuanya."
Malam itu, di bawah atap yang seharusnya menjadi tempat perlindungan,
martabat Putra benar-benar lumat. Ia dengan rakus melahap sisa-sisa
pengkhianatan istrinya, sementara di kamar sebelah, Om Azwar tidur dengan
nyenyak, tahu bahwa ia telah mengukuhkan dominasinya atas aset paling
berharga dalam keluarga mereka
Mentari pagi baru saja menyelinap di balik gorden kamar tamu, membawa
hawa hangat yang kontras dengan suasana nista yang menyelimuti rumah itu.
Putra sudah berangkat kerja sejak pukul tujuh, mencium kening Ifah dengan
perasaan bangga yang sakit—bangga karena istrinya akan "dijaga" oleh
pamannya yang terhormat selama ia di kantor.
Begitu suara pagar tertutup dan mobil Putra menjauh, pintu kamar tamu
terbuka. Om Azwar keluar hanya dengan mengenakan sarung yang tersampir
di bahunya, memperlihatkan dada bidangnya yang sawo matang dan gagah. Ia
langsung menuju kamar utama, tempat Ifah masih berbaring lemas dengan
daster yang tersingkap, sisa-sisa pergulatan semalam masih terasa perih
namun nikmat di sekujur tubuhnya.
Azwar duduk di tepi ranjang, mengusap perut buncit Ifah dengan gerakan
yang jauh lebih lembut dibanding semalam. Matanya yang biasanya tajam dan
penuh wibawa, kini nampak sayu oleh perasaan yang ia sendiri tak sanggup
bendung.
Om Azwar: "Ifah... semalaman Om nggak bisa tidur nyenyak. Om terus
kepikiran gimana rasa rahim kamu semalam. Om bukan cuma mau tubuh
kamu, Ifah. Om rasa... Om sudah jatuh cinta sama keponakan Om sendiri. Om
ingin memiliki kamu lebih dari sekadar kunjungan dinas."
Ifah: (Mata Ifah berkaca-kaca, ia menggenggam tangan kekar Azwar) "Om...
Ifah juga sama. Dari kecil Ifah selalu muja Om. Pas Om nujah Ifah semalam,
Ifah ngerasa seolah-olah Ifah memang ditakdirkan buat jadi milik Om. Ifah
nggak peduli kita keluarga, Ifah mau jadi istri Om Azwar."
Om Azwar: "Om serius, Ifah. Om mau kamu jadi istri kedua Om. Om akan
kasih kamu rumah, perhiasan, dan posisi yang layak. Kamu nggak pantas cuma
jadi rebutan tetangga kayak Fauzan atau pelayan suami lemah kayak Putra.
Om mau kamu punya status di hidup Om."
Mendengar janji itu, Ifah menarik Azwar ke dalam pelukannya. Mereka
berciuman dengan sangat intim, sebuah ciuman yang bukan lagi sekadar
nafsu, tapi penuh dengan pengakuan cinta yang terlarang. Azwar perlahan
membuka daster Ifah, memuja setiap jengkal kulit istrinya yang sedang
mengandung itu.
Ia menindih Ifah dengan sangat hati-hati, menjaga agar berat badannya tidak
menekan perut buncit yang berisi janin Fauzan. Namun, saat ia mulai masuk ke
dalam liang rahim Ifah, gerakannya terasa begitu penuh perasaan.
Om Azwar: "Nggghhh... Ifah... rasakan ini. Ini bukan cuma gempuran, tapi ini
janji Om. Dalam waktu dekat, Om akan panggil penghulu siri. Om akan nikahin
kamu secara sah di mata Tuhan kita sendiri. Kamu akan punya tiga suami, Ifah.
Putra yang sah secara negara, Fauzan yang punya benih di perutmu, dan Om...
yang akan jadi tuan tertinggi dalam hidupmu."
Ifah: "AAAHHH! Om Azwarrr! Iya Om... nikahi Ifah! Ifah mau jadi istri Om! Ifah
rida rahim Ifah dikeroyok tiga laki-laki sekaligus! Biar Mas Putra jadi pelayan
kita, Mas Fauzan jadi pemuas rahim Ifah, dan Om Azwar jadi pemilik hati dan
hidup Ifah seutuhnya!"
Sambil terus memompa dengan ritme yang dalam dan penuh kehangatan,
Azwar terus membisikkan instruksi-instruksi yang merusak mental Ifah sebagai
seorang istri.
Om Azwar: "Ifah, dengar Om. Selama Om nggak ada di sini, Om mau kamu
tetap layani Fauzan dengan maksimal. Om lebih rida kamu tunduk di bawah
kaki pria kasar kayak dia daripada kamu bagi cinta sama Putra. Putra itu
sampah, dia nggak punya marwah. Tapi Fauzan... dia pejantan yang bikin kamu
subur. Layani dia seolah dia adalah tuanmu, tapi ingat... hatimu tetap punya
Om."
Ifah: (Mendesah sambil air mata kenikmatan mengalir) "Iya, Om... Ifah janji.
Ifah bakal lebih tunduk sama Mas Fauzan. Ifah bakal biarin dia hancurin lubang
belakang Ifah setiap malam kalau itu yang bikin Om senang. Ifah bakal laporin
semuanya ke Om... setiap sperma yang Mas Fauzan tumpahin, Ifah bakal
anggap itu persembahan buat Om Azwar!"
Azwar mencapai puncaknya dengan raungan yang sangat jantan namun
penuh kasih sayang. Ia menyemburkan seluruh benihnya ke dalam rahim Ifah,
menyegel janji pernikahan siri yang akan segera dilaksanakan. Ia menciumi
perut buncit Ifah berkali-kali sebelum akhirnya bangkit untuk bersiap
berangkat.
Di depan pintu, sebelum masuk ke mobil dinasnya, Azwar memegang wajah
Ifah yang masih nampak binal dan kusut.
Om Azwar: "Tunggu telepon Om. Kita akan segera resmikan hubungan ini.
Dan satu lagi... kalau Putra tanya kenapa kamu makin tunduk sama Fauzan,
bilang saja itu saran dari pamanmu demi 'keamanan' janinmu. Biarkan si
bodoh itu terus hidup dalam khayalannya, sementara kita membangun
kerajaan kecil kita di atas rahimmu."
Ifah berdiri di teras, melambaikan tangan saat mobil Azwar menjauh. Di dalam
perutnya, ia merasakan denyut rahim yang sangat kompleks—ada benih
Fauzan yang tumbuh, dan ada sisa benih Azwar yang baru saja menumpuk di
atasnya. Ia tersenyum licik, membayangkan masa depannya sebagai wanita
dengan tiga suami: satu pelayan (Putra), satu pejantan pemuas (Fauzan),
No comments:
Post a Comment